Tanamkan Sradha Sejak Dini, Siswa Pasraman Desa Adat Tista Dibekali Pemahaman Doa Harian

Bimbingan dan penyuluhan interaktif kepada para siswa Pasraman Taman Giri Yowana Sucita

Karangasem (Bimas Hindu) — Upaya memperkuat fondasi keagamaan dan karakter generasi muda Hindu terus digencarkan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Karangasem. Melalui Penata Layanan Operasional (PLO) Kecamatan Abang, komitmen tersebut diwujudkan lewat bimbingan dan penyuluhan interaktif kepada para siswa Pasraman Taman Giri Yowana Sucita, Desa Adat Tista, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini difokuskan pada dua materi utama: penguatan spiritual melalui doa harian dan pelestarian budaya melalui pembuatan sarana upacara.

Pada sesi pertama, para peserta diberikan pemahaman esensial mengenai pentingnya doa sehari-hari. Edukasi ini bertujuan membangun kebiasaan spiritual agar Sradha (keyakinan) dan Bhakti (pengabdian) tertanam kuat dalam keseharian mereka. Peserta diajak menyadari bahwa doa tidak hanya dirapalkan saat persembahyangan formal di pura, melainkan harus menjadi napas dalam setiap aktivitas harian.

Terkait pendekatan pembinaan ini, PLO Kecamatan Abang, Yuti Utari, menjelaskan bahwa edukasi di tingkat pasraman harus dikemas secara membumi dan dekat dengan dunia anak-anak maupun remaja.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa ajaran agama bukan hanya sekadar teori untuk dipelajari, tetapi adalah laku spiritual yang diterapkan melalui kebiasaan sederhana sehari-hari. Berdoa dengan tulus adalah cara paling dasar untuk membangun kedekatan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus membentuk pikiran yang positif dan sikap rendah hati,” tuturnya.

Setelah sesi pembekalan spiritual, kegiatan beralih pada sesi motorik dan pelestarian budaya, yakni praktik membuat ketupat sida lungguh. Praktik ini tidak hanya mengasah keterampilan tangan (psikomotorik) peserta, tetapi juga menjadi media pengenalan langsung terhadap warisan tradisi Hindu Bali.

“Melalui kegiatan praktik membuat ketupat sida lungguh, anak-anak tidak sekadar belajar menganyam, tetapi sedang menyelami tradisi lingkungan mereka. Harapannya, tumbuh rasa bangga dan kepedulian yang kuat di dalam dada mereka untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Bali di masa depan,” tambah Yuti Utari.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang rangkaian acara. Suasana pembelajaran yang cair, dua arah, dan tidak menggurui membuat materi bimbingan terserap dengan baik.

Melalui bimbingan berkelanjutan ini, Kemenag Karangasem berharap eksistensi pasraman dapat terus dimaksimalkan sebagai kawah candradimuka dalam mencetak generasi muda Hindu yang tangguh. Generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, terampil, mencintai budayanya, dan memiliki teguh pendirian dalam ajaran Dharma.

 

Kontributor: Finxi


Berita Daerah LAINNYA