Tingkatkan Mutu Pendidikan Hindu, Bimbingan Masyarakat Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta Dampingi Migrasi Pasraman Nonformal

Upaya migrasi kelembagaan dari Pasraman Sekolah Minggu menuju Pasraman Nonformal guna memperkuat tata kelola dan kualitas layanan pendidikan keagamaan Hindu.

Yogyakarta (BIMAS HINDU) – Pendidikan keagamaan merupakan benteng utama dalam membentuk karakter dan keluhuran budi pekerti generasi muda di tengah arus modernisasi. Guna memastikan benteng tersebut tetap kokoh dan relevan dengan tuntutan zaman, jajaran Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan rapat koordinasi secara daring pada Rabu (22/07/2026). Pertemuan strategis ini difokuskan pada upaya migrasi kelembagaan dari Pasraman Sekolah Minggu menuju Pasraman Nonformal guna memperkuat tata kelola dan kualitas layanan pendidikan keagamaan Hindu.

Langkah transformasi kelembagaan ini merupakan tindak lanjut atas himbauan penataan sistem pendidikan keagamaan yang lebih komprehensif. Pasraman Nonformal hadir sebagai jalur pendidikan agama Hindu di luar pendidikan formal yang diselenggarakan secara terstruktur namun tetap mengedepankan fleksibilitas. Lembaga ini menitikberatkan pada pembinaan spiritual, penguatan karakter, serta pelestarian budaya melalui pendalaman pembelajaran kitab suci, pemahaman sloka, praktik yoga, dan tata cara ritual keagamaan. Kehadirannya menyempurnakan peran historis Pasraman Sekolah Minggu yang selama ini menjadi jembatan pelengkap pembelajaran agama Hindu bagi para peserta didik di sekolah-sekolah umum.

Rapat koordinasi virtual yang berlangsung dengan penuh antusiasme dan komitmen ini dihadiri oleh berbagai elemen penggerak pendidikan keagamaan. Turut hadir dalam ruang diskusi tersebut Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Didik Widya Putra, para ketua pasraman dari seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, serta dipandu secara langsung oleh Penanggung Jawab Pendidikan Bimbingan Masyarakat Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta, Riyanta. Hadir pula tokoh pendidik seperti Ketua Pasraman Widya Wiyata, Sulasna, yang aktif menyuarakan dinamika pengelolaan di tingkat akar rumput.

Dalam arahannya, Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Didik Widya Putra, menekankan esensi dari transformasi kelembagaan ini sebagai pijakan ekosistem pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan.

"Pasraman sebagai kawah candradimuka pendidikan karakter harus terus berbenah agar tidak tertinggal oleh dinamika zaman, namun tetap kokoh memegang teguh nilai-nilai keagamaan dan budaya leluhur. Bimbingan Masyarakat Hindu akan senantiasa hadir mendampingi seluruh proses penataan ini. Kami berkomitmen untuk terus berjuang agar pasraman, sebagai lembaga pendidikan nonformal yang sah dan diakui, memperoleh dukungan serta bantuan yang memadai untuk melaksanakan berbagai agenda kegiatan pembinaan umat secara maksimal," tegas Didik Widya Putra memberikan motivasi kepada para pengelola.

Melengkapi arahan tersebut, Penanggung Jawab Pendidikan Bimbingan Masyarakat Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta, Riyanta, menyoroti urgensi tata kelola administrasi sebagai tulang punggung pengembangan institusi.

"Pasraman Nonformal di seluruh penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta harus semakin tertib secara administrasi. Kami menghimbau dengan sangat kepada seluruh pengelola untuk segera melakukan pemutakhiran data serta melengkapi dokumen yang diperlukan. Tertib administrasi adalah fondasi krusial yang tidak bisa ditawar, agar lembaga ini mampu berkembang pesat dan memberikan pelayanan pendidikan keagamaan yang semakin terukur dan berkualitas tinggi," papar Riyanta.

Forum koordinasi ini juga membuka ruang dialog yang inklusif untuk membedah tantangan nyata di lapangan. Dalam sesi diskusi, Ketua Pasraman Widya Wiyata, Sulasna, turut menyampaikan aspirasi mengenai keterbatasan sumber daya manusia yang kerap menjadi kendala dalam mengawal tata kelola administrasi pasraman secara optimal, yang kemudian disambut dengan strategi pendampingan bersama oleh pihak kementerian.

Melalui sinergi dan koordinasi yang intensif ini, diharapkan proses migrasi menuju Pasraman Nonformal dapat berjalan dengan lancar dan optimal. Transformasi ini diproyeksikan akan menjadikan pasraman di Daerah Istimewa Yogyakarta semakin mandiri, profesional, dan tangguh dalam menjalankan perannya sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan pelestarian nilai-nilai luhur ajaran Hindu bagi generasi penerus bangsa.


Berita Daerah LAINNYA