Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) — Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tulang Bawang Barat terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan keagamaan tanpa batas. Komitmen ini diwujudkan melalui kegiatan pembinaan kerohanian bagi warga binaan beragama Hindu di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Menggala, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan pembinaan yang berlangsung secara intim ini mengangkat tema "Kasih Tuhan Ada dalam Doa yang Kita Panjatkan". Tema ini sengaja dipilih untuk mengajak para narapidana agar senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui kekuatan doa, melakukan introspeksi diri secara mendalam, serta perlahan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari di balik jeruji besi.
Penyuluh Agama Hindu Tulang Bawang Barat, Eko Sriwulan, menekankan bahwa doa bukan sekadar rangkaian kata yang dilontarkan. Lebih dari itu, doa adalah sarana paling murni untuk menumbuhkan ketenangan batin, merawat harapan, menyadarkan diri, dan memupuk kekuatan untuk menjalani proses penebusan kesalahan. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia, sekelam apa pun masa lalunya, selalu memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Kehidupan di dalam rutan hendaknya tidak dipandang semata-mata sebagai masa hukuman, melainkan sebagai momentum berharga untuk melakukan perenungan spiritual dan membangun niat kehidupan yang lebih baik.
Dalam perspektif ajaran Hindu, perubahan menuju jalan kebaikan dapat diwujudkan melalui Subhakarma, yaitu perbuatan bajik yang senantiasa dilandasi oleh kesucian pikiran, perkataan, dan tindakan. Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Wulan mengutip pesan luhur dari Kitab Bhagavadgita Bab III Sloka 7 yang mengajarkan tentang keutamaan mengendalikan panca indra melalui kekuatan pikiran. Sloka tersebut mengamanatkan agar setiap insan mampu melakukan Karma Yoga melalui tindakan yang benar, tanpa terikat pada orientasi hasil semata.
Pesan susastra tersebut menjadi sangat relevan bagi warga binaan agar setiap hari mereka dapat diisi dengan aktivitas yang positif. Penerapan Subhakarma di dalam rutan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kejernihan pikiran, bertutur kata yang baik, menghormati sesama warga binaan dan petugas, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sel.
“Tuhan tidak pernah jauh dari manusia. Ketika seseorang berdoa dengan tulus, sesungguhnya ia sedang membuka ruang terluas di dalam dirinya untuk menerima ketenangan, kekuatan, dan tuntunan menuju jalan kebaikan. Doa bukan sekadar meminta kepada Tuhan, tetapi juga menjadi cara kita berbicara kepada-Nya, mengakui segala kesalahan masa lalu, memohon kekuatan, dan berjanji untuk sungguh-sungguh memperbaiki diri,” terang Wulan di hadapan warga binaan.
Kegiatan pembinaan yang berlangsung sederhana namun sarat makna ini diikuti dengan sangat baik oleh warga binaan. Mereka diberikan ruang aman dan nyaman untuk menyampaikan pengalaman serta refleksi pribadi selama menjalani masa hukuman. Melalui pendampingan berkelanjutan ini, Kemenag berharap para warga binaan dapat menemukan kembali keyakinan dan harapan bahwa lembaran kehidupan selalu bisa diperbaiki melalui Subhakarma, ketulusan hati, doa, dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Kontributor: Eko Sriwualan