Jakarta (Bimas Hindu) Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Prof. I Nengah Duija, mendorong para guru mengembangkan pembelajaran agama Hindu yang selaras dengan kebiasaan belajar generasi muda. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk menyajikan nilai-nilai agama secara menarik, sederhana, dan mudah dipahami tanpa mengubah substansi ajarannya.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Ngopi #5 bertema “Penyusunan Modul Pembelajaran, E-book, serta Video/Media Pembelajaran” yang digelar secara virtual oleh Bidang Pendidikan Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Rabu (26/8/2026).
“Norma-norma agama tidak berubah, tetapi cara kita menyampaikannya harus mampu diterima oleh generasi muda. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mendekatkan peserta didik kepada agama melalui teknologi yang mereka kuasai,” ujar I Nengah Duija.
Menurut Prof. Duija, perkembangan teknologi tidak boleh dipahami sebagai ancaman terhadap nilai-nilai agama. Teknologi justru dapat menjadi sarana untuk mengomunikasikan ajaran Hindu sesuai dengan karakter dan pola literasi peserta didik masa kini.
Karena itu, para pendidik dituntut bersedia menyesuaikan metode pembelajaran dan membangun kedekatan baru dengan peserta didik. Perubahan tersebut perlu dimulai dari guru sebagai pihak yang merancang dan menyampaikan materi pembelajaran.
“Dalam aspek teknologi, kita sebagai guru yang harus mengubah diri, bukan menuntut siswa untuk mengubah diri. Modul, e-book, dan video pembelajaran merupakan pilihan yang akan menjadi bagian dari masa depan pendidikan agama Hindu,” tegasnya.
Dirjen juga mengingatkan bahwa generasi muda cenderung menyukai materi yang ringkas dan mudah dicerna. Kondisi tersebut menuntut guru mampu menyederhanakan cara penyajian tanpa mengurangi nilai dan kedalaman materi keagamaan.
“Materi yang sederhana bukan berarti kehilangan makna. Guru perlu menciptakan ruang agar video, e-book, dan bahan pembelajaran yang disusun benar-benar mampu menarik minat peserta didik untuk belajar agama,” lanjut Prof. Duija.
Kegiatan Ngopi #5 diikuti sekitar 234 peserta yang terdiri atas unsur Kementerian Agama, pengawas, kepala Widyalaya, guru Pendidikan Agama Hindu, serta perwakilan kelompok dan organisasi profesi pendidik. Sejumlah praktisi pendidikan dan guru berprestasi turut dilibatkan sebagai narasumber untuk berbagi praktik baik dalam pengembangan pembelajaran digital.
Kepala Bidang Pendidikan Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Ketut Ariawan, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan modul, e-book interaktif, dan video pembelajaran berbasis kearifan lokal. Bahan ajar yang disusun juga telah diselaraskan dengan capaian pembelajaran terbaru serta diintegrasikan dengan kode QR yang terhubung ke berbagai media digital.
“Produk pembelajaran yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan oleh sekolah umum maupun Widyalaya serta membantu guru menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik,” ungkap Ariawan.
Selain meningkatkan kompetensi teknis guru, kegiatan ini diharapkan menjadi awal terbentuknya komunitas pembelajaran digital yang melibatkan para pendidik dan Widyalaya di seluruh Indonesia. Prof. Duija mengapresiasi Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali yang telah memelopori forum tersebut hingga memasuki pelaksanaan kelima.
Dirjen berharap praktik baik yang dikembangkan di Bali dapat dibagikan kepada guru-guru di berbagai daerah, termasuk mereka yang bertugas di wilayah pelosok. Dengan materi dan acuan yang selaras, pemanfaatan teknologi diharapkan mampu memperkuat mutu Pendidikan Agama Hindu sekaligus membawa peserta didik semakin dekat dengan nilai-nilai agamanya.