Jelang Piodalan Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Tradisi Ngelawar Bersama Satukan Umat Hindu dalam Semangat Gotong Royong dan Kebersamaan

Ngelawar Bersama, Satukan Hati dalam Gotong Royong

Bogor (Bimas Hindu) – Dirjen Bimas Hindu Kemenag, Prof. I Nengah Duija, mengajak umat Hindu memperkuat persatuan, gotong royong, dan komunikasi melalui tradisi Ngelawar Bersama. Pesan tersebut disampaikan saat kegiatan Simakrama dan Ngayah Umum persiapan Piodalan di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Selasa (25/8/2026).

Kegiatan diikuti jajaran Ditjen Bimas Hindu, Ketua Yayasan Giri Taman Sari, pengurus Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, serta ratusan umat Hindu dari wilayah Jabodetabek. Mereka bersama-sama ngayah menyiapkan berbagai kebutuhan menjelang puncak Piodalan yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026.

Di tengah kegiatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu turut membaur bersama umat dalam proses ngelawar. Tradisi ini menjadi bagian dari kegiatan ngayah sekaligus ruang perjumpaan yang mempertemukan pemerintah, pengurus pura, dan umat dalam suasana kekeluargaan.

Prof. I Nengah Duija mengatakan, Ngelawar Bersama di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta merupakan kegiatan ketujuh yang digelar di pura-pura wilayah Jabodetabek, sebagai upaya tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mengenalkan dan memperkokoh persatuan umat Hindu melalui kerja sama, gotong royong, saling membantu, serta membangun komunikasi yang semakin baik antarelemen umat.

“Kegiatan ini dalam rangka mengenalkan dan memperkokoh persatuan kita, kerja sama, gotong royong, saling membantu, dan tentu komunikasi antarumat menjadi lebih baik,” ujar Prof. Duija.

Menurutnya, kegiatan bersama seperti ngelawar menjadi cara untuk menerjemahkan nilai-nilai kebersamaan yang selama ini bersifat konseptual ke dalam praktik kehidupan umat. Ketika pemerintah dan umat terlibat langsung dalam satu kegiatan, komunikasi dapat berlangsung lebih terbuka dan hubungan sosial semakin kuat.

Dirjen Bimas Hindu juga menilai lawar memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keagamaan Hindu karena berkaitan dengan berbagai kebutuhan dalam pelaksanaan upacara. Lawar tidak hanya dipandang sebagai hidangan, tetapi menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan dan terus hidup di tengah masyarakat.

“Lawar ini adalah sebuah produk gastronomi yang sangat penting bagi kelanjutan umat Hindu di seluruh Indonesia. Bagaimanapun juga, lawar ini merupakan substansi dari upacara,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Duija menyoroti lawar putih dan lawar merah yang menurutnya dapat dimaknai sebagai simbol Merah Putih. Makna tersebut menjadi relevan dengan suasana peringatan kemerdekaan Indonesia pada Agustus.

“Ada lawar putih, ada lawar merah. Itu adalah Merah Putih bagi Indonesia. Kalau kita lihat dari situ, maka secara nasional kita telah mengimplementasikan bagaimana nilai-nilai kemerdekaan yang sedang kita laksanakan pada bulan ini,” jelasnya.

Bagi Prof. Duija, pemaknaan simbol dalam tradisi keagamaan dapat menjadi salah satu cara umat menunjukkan penghormatan terhadap negara. Nilai kebangsaan tidak hanya disampaikan melalui wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui kebersamaan, gotong royong, dan penghargaan terhadap tradisi.

Kegiatan Simakrama dan Ngayah Umum juga menjadi bagian dari persiapan menuju puncak Piodalan Pura Parahyangan Agung Jagatkarta. Duija menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Giri Taman Sari, pengurus pura, panitia Pujawali, dan seluruh umat yang telah bersama-sama mempersiapkan rangkaian upacara.

Ia berharap semangat kebersamaan yang dibangun melalui kegiatan tersebut dapat terus berkembang di pura-pura lainnya. Menurutnya, semakin banyak ruang perjumpaan yang dibangun, semakin kuat pula komunikasi dan rasa saling memahami di antara umat.

“Mudah-mudahan di tempat lain kegiatan-kegiatan ini semakin banyak dilakukan agar seluruh umat kita saling memahami, saling berkomunikasi, dan juga saling membantu,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Giri Taman Sari sekaligus pengurus Pura Parahyangan Agung Jagatkarta menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dirjen Bimas Hindu beserta jajaran dalam kegiatan Ngelawar Bersama. Ia menilai program tersebut memiliki nilai penting bagi keberlanjutan tradisi, khususnya di kalangan generasi muda.

Menurutnya, tradisi ngelawar selama ini lebih akrab dengan generasi yang lebih tua. Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan semacam ini menjadi penting agar mereka tidak hanya mengenal lawar sebagai makanan khas, tetapi juga memahami konteks sosial dan budaya yang menyertainya.

“Saya menginisiasi program Ngelawar Bersama. Dengan Ngelawar Bersama ini menjadi inspirasi dan motivasi kepada umat Hindu, khususnya generasi muda, supaya mengenal tentang ngelawar,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan Ngelawar Bersama dapat terus dikembangkan dan dilaksanakan di pura-pura lainnya. Selain menjadi bagian dari persiapan upacara, kegiatan tersebut dinilai mampu mempertemukan berbagai generasi dalam suasana ngayah dan gotong royong.

“Dengan dibudayakan seperti ini, generasi muda pun terinspirasi untuk selalu melakukan ngelawar sebagai masakan khas Bali. Harapannya, ke depan kegiatan ini terus diadakan, setidaknya juga di pura-pura yang lain,” katanya.

Rangkaian Simakrama dan Ngayah Umum di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta menunjukkan bahwa pelestarian tradisi keagamaan dapat berjalan beriringan dengan penguatan persatuan umat. Melalui kegiatan bersama, nilai gotong royong, komunikasi, pelestarian budaya, dan semangat kebangsaan hadir dalam praktik kehidupan umat Hindu.

Kontributor : I Made Juni Saputra


Berita Pusat LAINNYA