Bogor (Bimas Hindu) - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Prof. I Nengah Duija, mengajak umat Hindu memaknai Piodalan ke-21 Pura Parahyangan Agung Jagatkarta sebagai momentum memperkuat bhakti dan menjaga kesucian upacara. Pesan itu disampaikan dalam Dharma Wacana pada Pujawali yang berlangsung Kamis (27/8/2026).
Prof. I Nengah Duija menegaskan, pelaksanaan Pujawali tidak semestinya hanya mengedepankan kemeriahan. Setiap rangkaian upacara perlu dijalankan secara benar, indah, suci, serta mengikuti struktur dan tata urutan yang telah ditetapkan.
“Yang indah itu harus suci dan benar. Yang benar itu harus suci dan indah. Dan yang suci itu harus benar dan indah,” ujar Prof. Duija.
Ia mengingatkan pentingnya memahami tahapan **Bali-balihan, Bebali, dan Wali** dalam pelaksanaan upacara. Menurutnya, ketepatan urutan menjadi bagian penting untuk menjaga makna dan kesakralan Pujawali.
“Bali-balihan, Bebali, Wali. Jangan setelah Wali ada Bali-balihan lagi. Bukan salah, tapi keliru,” katanya.
Selain tata urutan, Duija menyoroti etika dalam pelaksanaan persembahyangan. Ia meminta seluruh pihak menghormati umat yang sedang menjalankan ibadah dengan tidak mengganggu ruang persembahyangan.
“Ini kelihatannya remeh, tetapi ini prinsip. Tempat suci ketika hidup peranda sudah mempunyai, seluruhnya sudah suci. Nah, mari kita sucikan bersama-sama,” ujarnya.
Dalam Dharma Wacana tersebut, Dirjen Bimas Hindu juga mengajak umat mendalami ajaran Hindu melalui Itihasa. Ia mencontohkan Mahabharata sebagai sumber pembelajaran tentang kehidupan manusia, termasuk bagaimana dharma, persoalan, pilihan, dan konsekuensi hadir dalam perjalanan hidup.
“Kalau kita baca 18 parwa, itulah kehidupan kita sesungguhnya,” kata Duija. Ia mengingatkan agar umat memahami kehidupan terlebih dahulu sebelum masuk pada pembelajaran ajaran yang lebih mendalam.
Kisah Yudhisthira kemudian menjadi salah satu contoh yang disampaikan Duija untuk menjelaskan bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Orang yang berada di jalan dharma tetap dapat menghadapi persoalan, sementara hasil dari suatu perbuatan tidak selalu diterima secara langsung.
“Orang-orang jahat tidak selamanya mendapat pahala jahat. Tapi, orang-orang yang berbuat dharma ini, tidak selamanya juga orang-orang mendapat kebaikan,” tuturnya.
Dirjen Bimas Hindu juga menekankan bahwa bhakti kepada Tuhan menjadi salah satu wujud kemuliaan manusia. Ia menyebut umat yang tekun menjalankan bhakti sebagai orang-orang yang patut dihormati.
“Orang-orang yang memuja bhakti kepada Tuhan Yang Mahakuasa, itu adalah orang terhormat,” tegasnya.
Menutup Dharma Wacananya, Prof. Duija mendoakan agar Pujawali Purnama Ketiga membawa kesehatan, kesuksesan, dan kelancaran bagi umat.
“Mudah-mudahan bapak ibu sekalian melalui Pujawali Purnama Ketiga pada hari ini, semua harapan-harapan kita, semua pujian kita kepada beliau selalu dilimpahkan kepada kita semua, sehat, sukses, dan lancar,” pungkasnya.
Kontributor : I Made Juni Saputra