MAKNA PENGORBANAN SEJATI DI BALIK KISAH BISMA: DIRJEN SAMPAIKAN LIMA PILAR PENGHORMATAN YANG PALING UTAMA

Puncak perayaan Pujawali ke-30 Pura Widya Dharma Cibubur

JAKARTA (Bimas Hindu) – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., menghadiri puncak perayaan Pujawali ke-30 Pura Widya Dharma Cibubur, pada Jumat (28/8/2026). Perayaan suci yang bertepatan dengan momentum hari suci Purnama Sasih Ketiga ini berlangsung dengan khidmat dan penuh rasa kebersamaan.

Turut hadir dalam persembahyangan tersebut Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tanaya, tokoh masyarakat, dan ratusan umat Hindu yang memadati area pura.

Rangkaian upacara suci ini diawali dengan persembahan kesenian sakral berupa Tari Rejang Dewa, Tari Baris Gede, Tari Rejang Renteng, hingga Tari Topeng Sidakarya. Setelah pementasan tari-tarian tersebut, Dirjen Bimas Hindu berbaur bersama tokoh umat dan masyarakat untuk melaksanakan persembahyangan bersama sebagai wujud sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Usai persembahyangan, Prof. Duija berkesempatan memberikan Dharma Wacana yang menyentuh realitas sosial sekaligus menggali kedalaman susastra Hindu.

Dalam pesan pembukanya, Dirjen Bimas Hindu menyinggung situasi kebangsaan saat ini. Beliau mengajak umat Hindu untuk mengambil peran spiritual dalam menjaga keutuhan bangsa. "Di saat saudara-saudara kita di luar sana sedang berdemonstrasi untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, mari kita yang berada di tempat suci ini memanjatkan doa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar bangsa dan negara ini senantiasa aman, tenteram, dan damai," pesan Prof. Duija.

Lebih lanjut, Prof. Duija memaparkan nilai-nilai luhur dari epos Mahabharata, khususnya kisah saat Maharsi Bisma terbaring di atas ranjang panah menjelang kematian beliau. Dalam kondisinya, Bisma memberikan wejangan agung kepada Yudistira tentang orang-orang yang paling utama untuk dihormati di dunia ini.

Prof. Duija menegaskan bahwa penghormatan kepada mereka bukanlah sekadar formalitas, melainkan fondasi utama dari karakter moral yang kuat, stabilitas sebuah negara, dan jalannya Dharma (kebenaran). Lima pilar penghormatan tersebut adalah:

  • Ibu: Bisma menyebut kedudukan seorang ibu bahkan lebih tinggi daripada bumi. Tidak ada guru atau pemuka agama yang bisa menandingi derajat seorang ibu dalam hal pengorbanan.
  • Ayah: Menghormati ayah disamakan dengan menghormati langit. Restu dan kepuasan hati seorang ayah menjadi kunci ketenteraman hidup seorang anak di dunia.
  • Guru/Acharya: Guru memberikan "kelahiran kedua" secara spiritual dan intelektual. Tanpa bimbingan guru, manusia tidak akan bisa membedakan mana yang benar (dharma) dan mana yang salah (adharma).
  • Kaum Brahmana/Orang Suci/Ilmuwan: Seorang pemimpin wajib menghormati orang-orang bijak yang hidup bersahaja demi ilmu pengetahuan dan kerohanian. Kritik dan nasihat dari mereka adalah kompas agar penguasa tidak bertindak sewenang-wenang.
  • Orang yang Lebih Tua: Menghormati yang lebih tua membawa berkah berupa umur panjang, kemasyhuran, dan kekuatan spiritual, karena pengalaman mereka adalah guru terbaik bagi generasi muda.

"Bisma berpesan, jika Yudistira mampu menghormati kelima pilar ini, maka ia akan berhasil memerintah Kerajaan Hastinapura dengan adil, dicintai rakyatnya, dan mencapai kedamaian batin tertinggi," terang Prof. Duija.

Menutup Dharma Wacana-nya, Prof. Duija menjelaskan momen suci kepergian Bisma pada masa Uttarayana, yaitu periode ketika pergerakan matahari berada di belahan bumi utara, yang diyakini sebagai waktu sangat suci dalam tradisi Hindu.

Di masa-masa terakhirnya itu, melalui perumpamaan kisah burung elang dan merpati, Bisma mengajarkan konsep Rajadharma (kewajiban pemimpin). Bisma menekankan bahwa tugas tertinggi seorang pemimpin adalah memberikan perlindungan kepada siapa pun yang datang memohon perlindungan, meski taruhannya adalah nyawa sang pemimpin itu sendiri. Pemimpin tidak boleh menolak apalagi mengorbankan rakyat lemah yang telah menitipkan kepercayaan kepadanya.

"Pengorbanan sejati (Dharma) itu baru tercapai ketika seseorang mampu menundukkan ego dan kepentingan pribadinya secara utuh, demi melindungi hak hidup makhluk lain tanpa pamrih," tegas Prof. Duija.

Pujawali ke-30 Pura Widya Dharma Cibubur diharapkan tidak hanya menjadi ajang penyucian secara spiritual, namun juga menjadi momen refleksi bagi umat Hindu untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran Dharma dalam berbangsa dan bernegara.


Berita Pusat LAINNYA