Menyemai Pengetahuan, Merawat Peradaban: Ditjen Bimas Hindu dan Universitas Patanjali India Bangun Rencana Kemitraan Strategis

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia menerima audiensi dari Universitas Patanjali India

Jakarta (BIMAS HINDU) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia menerima audiensi dari Universitas Patanjali India yang dihadiri langsung oleh Vice-Chancellor Universitas Patanjali, Acharya Balkrishna, di Ruang Sidang Ditjen Bimas Hindu, Lantai 14, Senin (8/6/2026).

Audiensi tersebut diterima langsung  oleh Direktur Jenderal Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, Kasubdit Pendidikan Tinggi Hindu, Kasubdit Pendidikan Dasar Hindu, serta sejumlah perwakilan dari Universitas Patanjali India.

Pertemuan ini membahas berbagai peluang kerja sama strategis antara Universitas Patanjali dan Direktorat Jenderal Bimas Hindu bersama perguruan tinggi keagamaan Hindu di Indonesia. Kerja sama yang dirancang tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat identitas, pengetahuan, dan pelayanan umat Hindu melalui riset, pendidikan, pelestarian budaya, serta pengembangan ilmu pengetahuan berbasis tradisi Hindu.

Dalam kesempatan tersebut, Acharya Balkrishna menyampaikan apresiasinya terhadap Indonesia yang dinilai berhasil menjaga warisan budaya dan nilai-nilai Hindu secara berkelanjutan.

“India dan Indonesia memiliki akar peradaban yang sama dalam tradisi Hindu. Walaupun berkembang dalam bentuk dan tradisi yang berbeda, hubungan itu akan semakin kuat apabila akar budaya dan spiritualitas kita terus dipelihara bersama,” ujarnya.

Acharya Balkrishna menawarkan sejumlah program kerja sama yang meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, pemberian beasiswa, pelaksanaan short course, serta pengembangan studi Yoga, Ayurveda, Sanskerta, Veda, filsafat Hindu, dan naturopati.

Salah satu gagasan penting yang muncul dalam audiensi tersebut adalah penyusunan Ensiklopedia Hindu Indonesia yang berbasis penelitian ilmiah dan bukti sejarah. Ensiklopedia tersebut direncanakan memuat sejarah Hindu Indonesia, tradisi dan budaya Hindu Nusantara, bahasa Sanskerta, ritual keagamaan, adat istiadat, serta berbagai kearifan lokal yang berkembang di berbagai daerah.

Acharya Balkrishna menegaskan bahwa dokumentasi ilmiah tersebut penting untuk memperkuat pemahaman dan kebanggaan generasi muda terhadap agama dan budaya Hindu.

“Ketika masyarakat memahami sejarah, akar budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur, maka akan tumbuh kebanggaan serta tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya,” ungkapnya.

Menanggapi berbagai tawaran kerja sama yang disampaikan Universitas Patanjali, Direktur Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija, menyampaikan apresiasi dan menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, kerja sama yang dibangun tidak hanya akan memperkuat hubungan kelembagaan antara Indonesia dan India, tetapi juga membuka ruang peningkatan kapasitas sumber daya manusia Hindu melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.

Prof. I Nengah Duija secara khusus menyambut positif program short course yang ditawarkan Universitas Patanjali bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan perguruan tinggi keagamaan Hindu di Indonesia. Program tersebut dinilai menjadi peluang strategis untuk memperdalam pemahaman mengenai Yoga, Ayurveda, Sanskerta, Veda, budaya India, hingga pengelolaan kesehatan tradisional yang telah berkembang secara sistematis di India.

“Program short course ini sangat baik dan relevan dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia Hindu saat ini. Melalui program tersebut, dosen dan mahasiswa kita dapat memperoleh pengalaman akademik internasional, memperluas wawasan, serta memperkuat kompetensi di bidang Yoga, Ayurveda, Sanskerta, dan kajian-kajian Hindu lainnya yang nantinya dapat dikembangkan kembali di Indonesia,” ujar Prof. I Nengah Duija.

“Kami berharap program ini dapat menjadi pintu masuk lahirnya lebih banyak kolaborasi akademik, riset, dan pengembangan kapasitas yang memberi manfaat langsung bagi umat Hindu serta kemajuan pendidikan keagamaan Hindu di Indonesia,” pungkasnya.

“Kami memiliki perguruan tinggi keagamaan Hindu yang dapat menjadi mitra strategis dalam pengembangan riset dan pendidikan. Kerja sama ini akan kami dorong melalui kolaborasi antarkampus sehingga menghasilkan manfaat nyata bagi umat Hindu dan masyarakat luas,” kata Prof. I Nengah Duija.

Terkait penyusunan Ensiklopedia Hindu Indonesia, Prof. I Nengah Duija menjelaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan Hindu akan menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan naskah akademiknya.

Selain itu, Dirjen Bimas Hindu juga menyampaikan peluang kerja sama dalam pengembangan tanaman herbal dan Ayurveda melalui perguruan tinggi yang memiliki program studi Yoga dan Kesehatan. Beberapa kampus, seperti Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan kebun tanaman herbal dan pusat kajian kesehatan tradisional.

Kerja sama juga diarahkan pada penyelenggaraan Festival Yoga Prambanan dan Konferensi Internasional Yoga dan Ayurveda yang direncanakan berlangsung pada tahun 2027. Melalui kegiatan tersebut, perguruan tinggi Hindu di Indonesia diharapkan dapat berdiskusi dan merumuskan arah pengembangan program studi kesehatan Ayurveda di masa mendatang dengan melibatkan para ahli dari India.

Audiensi ini menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia dan India, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, budaya, kesehatan tradisional, dan pengembangan sumber daya manusia Hindu.

Melalui kolaborasi yang dibangun, kedua pihak berharap dapat menghadirkan berbagai program yang tidak hanya bermanfaat bagi dunia akademik, tetapi juga memperkuat pemahaman keagamaan, pelestarian budaya, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada umat Hindu di Indonesia.


Berita Pusat LAINNYA