HAWASSA, (BIMAS HINDU) - Rektor Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Prof I Gusti Ngurah Sudiana terpilih menjadi salah satu pembicara dalam Indonesia-Ethiopia Interfaith Dialogue yang berlangsung di Kota Hawassa, Ethiopia, Senin (5/8/2024).
Prof Sudiana mewakili umat Hindu Indonesia untuk mengenalkan praktik baik moderasi beragama yang telah terwujud dengan kokoh di Pulau Bali selama ini.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Sudiana mengungkapkan, praktik kehidupan beragama moderat telah mengakar kuat di Pulau Bali yang penduduknya mayoritas beragama Hindu. Kendati menjadi agama paling banyak dianut masyarakat setempat, uniknya, umat Hindu di Bali bisa hidup bersama, rukun dan harmonis dengan penganut agama lain.
Menurut Prof Sudiana, ini bisa terjadi karena dalam ajaran Hindu, umat telah dianjurkan untuk menghargai agama atau keyakinan orang lain. Di antara ajaran dalam Kitab Suci Hindu tersebut antara lain 'Ekam Sat Vipraaha Bahudha Vadanti, Ekam Sat Wiprah Bahudha Wadanti' yang artinya 'Hanya ada satu kebenaran, namun para orang pandai menyebutnya dengan banyak nama'.
"Pesan dari kitab suci itu jelas mengajarkan umat Hindu untuk tidak merasa paling benar sendiri. Sehingga penting kiranya untuk saling memahami dan menghargai antarsesama makhluk Tuhan di manapun dan kapan pun," ujar Prof Sudiana.
Selain pengaruh aspek teologi, masyarakat di Bali memiliki banyak tradisi dan praktik unik untuk merekatkan antara penganut agama satu dengan yang lain. Di antaranya, Subak, Puri, Griya, Saling Sakap, Saling Ngejotin, Saling Tulung, Saling Silih, hari raya, dan upacara kematian.
"Pada tradisi subak yang merupakan sistem pengairan pertanian berbasis adat misalnya, pengurus dan warganya meliputi semua agama. Mereka memiliki kesepakatan-kesepakatan dan bergotong royong tanpa merendahkan agama satu dengan yang lain. Subak ini telah mengakar dengan baik ratusan tahun hingga saat ini," jelas Prof Sudiana yang bersama Direktur Pascasarjana UHN I Bagus Sugriwa Prof Relin Denayu Ekawati menjadi anggota delegasi Indonesia dalam ajang dialog internasional tersebut.
Tak hanya itu, di Bali juga ada pura-pura yang sifatnya tidak eksklusif. Di antaranya adalah Pura Balingkang, Pura Batur, Pura Gambur Anglayang, Pura Puja Mandala dan Pura Nusa Dharma. Di pura-pura itu, umat dari agama lain dibolehkan untuk menjalankan ibadahnya masing-masing. Bukti-bukti kuatnya praktik moderasi ini juga sudah diteliti sejumlah akademisi dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.
"Untuk muslim misalnya ada ruang untuk menjalankan salat. Praktik inklusivitas ini sudah menjadi kebiasaan warga Bali sehingga tak pernah menyebabkan pertentangan atau konflik.
Masyarakat Bali, tandas Prof Sudiana, sejak nenek moyang juga memiliki dasar untuk membina hidup saling menghargai yang menjadi pijakan praktik moderasi beragama hingga kini. Antara lain Weda, Panca Sradha, Tri Kerangka Agama Hindu, Tri Hita Karana, Catur Paramitha, Catur Marga dan Panca Yadna.
"Dasar-dasar ini menjadi pondasi kuat umat untuk mengedepankan hidup yang rukun tanpa menghilangkan tradisi yang sudah ada. Warga Bali sudah biasa hidup dengan cara pandang, sikap dan perilaku yang moderat," jelasnya.
Selain Prof Sudiana, delegasi Indonesia yang hadir dalam kegiatan bertema “Diplomacy of Religious Moderation to Build Interfaith Dialogue” itu adalah Kepala Balitbang Diklat Kemenag Prof Suyitno, Dubes RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika Al Busyra Basnur, Kepala Biro Kepegawaian Kemenag Wawan Junaidi, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof Rosihon Anwar, Rektor IAKN Manado Dr Olivia Cherly Wuwung, Ketua STAKN Pontianak Dr Sunarso dan Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri Dr Sulaiman Girivirya.
Adapun dari Ethiopia antara lain adalah Ambaye Ogato (Ethiopian Nasional Dialogue Commission), President of Ethiopia Adventist College Dr Abraham Dalu, Dr Melese Madda (Hawassa University) dan Muhammed Ali (Dilla University).