Tahukah Anda?

Bukan Bunganya, Ini Bagian Terpenting dalam Sebuah Canang

Penyuluh Ahli Madya I Gusti Putu Suana menyampaikan Dharma Wacana tentang makna filosofis porosan

Denpasar (Bimas Hindu) — Ketika melihat sebuah canang, perhatian kita biasanya tertuju pada bunga-bunga yang tersusun indah atau janur yang dirangkai dengan rapi. Namun, tahukah Anda bahwa bagian terpenting dari sebuah canang justru bukan bunga?

Ada satu bagian kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi menjadi inti dari sebuah persembahan, yakni porosan. Meski ukurannya hanya beberapa sentimeter, porosan menyimpan filosofi yang sangat mendalam tentang keharmonisan hidup menurut ajaran Hindu.

Makna inilah yang diangkat dalam Dharma Wacana usai Persembahyangan Hari Suci Tilem yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali pada Selasa (15/7/2026). Persembahyangan rutin bulanan tersebut diikuti oleh pejabat dan seluruh pegawai beragama Hindu sebagai wujud pembinaan spiritual sekaligus penguatan nilai-nilai keagamaan dalam menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara.

Dalam Dharma Wacana, Penyuluh Ahli Madya Bidang Urusan Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag., M.Si., menjelaskan bahwa porosan merupakan sarana pokok dalam banten yang terdiri atas daun sirih, buah pinang, dan kapur. Ketiga unsur tersebut melambangkan penyatuan unsur-unsur suci yang mencerminkan keharmonisan, keseimbangan, dan persatuan dalam kehidupan.

"Porosan mengajarkan kepada kita bahwa keharmonisan hidup lahir dari keselarasan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Walaupun bentuknya kecil dan sering tidak menjadi perhatian, justru di dalam porosan tersimpan filosofi persatuan, keseimbangan, dan ketulusan yang menjadi inti dari sebuah persembahan," ujar I Gusti Putu Suana.

Menurutnya, porosan bukan sekadar pelengkap upacara, melainkan pengingat bagi umat Hindu untuk senantiasa mengamalkan Tri Kaya Parisudha, yakni menyelaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun karakter, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat integritas dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi aparatur sipil negara. Sebab, sebagaimana porosan yang menjadi inti sebuah canang meski tidak mencolok, demikian pula nilai-nilai kejujuran, ketulusan, dan integritas sering kali tidak terlihat, tetapi justru menjadi dasar utama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Melalui persembahyangan Tilem dan Dharma Wacana ini, Bidang Urusan Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali terus memperkuat pembinaan mental spiritual pegawai, sekaligus menanamkan nilai-nilai ajaran Hindu sebagai fondasi dalam mewujudkan pelayanan keagamaan yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Persembahyangan Tilem pun tidak hanya menjadi momentum untuk memanjatkan doa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga menjadi ruang refleksi bahwa dalam kehidupan, sebagaimana sebuah canang, sering kali yang paling kecil justru menyimpan makna yang paling besar.


Berita Daerah LAINNYA