Gianyar (BIMAS HINDU) — Bagi sebagian remaja, menikah di usia muda mungkin terdengar sebagai jalan keluar yang sederhana. Namun, di balik keputusan tersebut tersimpan berbagai konsekuensi panjang yang dapat memengaruhi keberlanjutan pendidikan, stabilitas mental, kemandirian ekonomi, hingga keharmonisan keluarga di masa depan.
Kesadaran fundamental itulah yang secara intensif ditanamkan oleh jajaran Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gianyar kepada para siswa SMK Negeri 2 Tegallalang, melalui kegiatan pembinaan keagamaan pada Kamis (16/07/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 50 siswa ini diawali dengan cara yang unik dan mendalam. Sebelum menerima materi, para siswa diajak duduk bersila dan memejamkan mata untuk melakukan meditasi keheningan singkat. Momen reflektif ini dirancang sebagai ruang bagi para remaja untuk mengenali diri sendiri, mengelola emosi, serta memusatkan pikiran sebelum merancang masa depan dengan lebih bijaksana.
Memasuki sesi utama, Penyuluh Agama Hindu memberikan pemaparan komprehensif mengenai bahaya pernikahan dini dalam perspektif ajaran agama Hindu. Para siswa diajak untuk membedah berbagai konsekuensi sosial, psikologis, dan ekonomi apabila seseorang nekat memasuki kehidupan berumah tangga sebelum benar-benar siap secara lahir dan batin.
Lebih lanjut, tim penyuluh menguraikan esensi jenjang kehidupan dalam Hindu yang dikenal dengan konsep Catur Asrama. Masa remaja, yang berada pada fase Brahmacari (masa menuntut ilmu), adalah fondasi krusial untuk mengembangkan potensi dan membangun karakter.
"Masa muda adalah kesempatan emas untuk menuntut ilmu dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang berkualitas. Pernikahan atau memasuki fase Grihasta adalah proses sakral (yadnya) yang membutuhkan kematangan fisik, mental, dan spiritual. Jangan sampai masa depan dan cita-cita dikorbankan oleh keputusan emosional yang terburu-buru," urai perwakilan Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar di hadapan para pelajar.
Edukasi yang menyentuh ranah psikologis remaja ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak sekolah. Kepala SMK Negeri 2 Tegallalang, I Gede Dangin, menyambut baik langkah proaktif dari Kemenag Gianyar dalam mengawal karakter peserta didiknya.
"Kami sangat berterima kasih kepada Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Gianyar yang telah hadir memberikan pembinaan secara langsung tanpa dipungut biaya. Kegiatan ini sangat bermanfaat. Ke depan, kami berharap sinergi ini dapat terus berlanjut, khususnya melalui bimbingan praktik keagamaan seperti yoga maupun pembuatan upakara guna memperkokoh karakter dan nilai spiritual anak-anak kami," ungkap I Gede Dangin.
Melalui program pembinaan langsung ke sekolah ini, Kemenag Kabupaten Gianyar terus membuktikan komitmennya dalam mendorong penguatan karakter generasi muda melalui pendekatan agama yang membumi. Harapannya, para siswa tidak hanya menyadari risiko pernikahan dini, tetapi juga memiliki ketahanan moral dan bekal yang matang untuk merencanakan masa depan yang selaras dengan nilai-nilai luhur Dharma.