Kendari (Bimas Hindu) – Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya digitalisasi saat ini, penyebaran konten keagamaan yang sejuk, damai, dan moderat memegang peranan krusial sebagai benteng moral masyarakat. Menjawab tantangan global tersebut, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Kendari melalui Penyuluh Agama Hindu, Pande Kadek Juliana bergerak taktis menggandeng Badan Penyiaran Hindu (BPH) Sulawesi Tenggara guna melaksanakan rekaman (taping) program siaran Mimbar Agama Hindu di Stasiun TVRI Sulawesi Tenggara pada Selasa (14/7).
Program edukatif berdurasi 55 menit tersebut menjadi momentum strategis dalam mengedukasi umat. Dalam pelaksanaannya, Pande Kadek Juliana berkolaborasi secara sinergis bersama Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Konawe Selatan, Kompol Dr. I Gusti Komang Sulastra, S.H., M.H. Diskusi interaktif yang sarat akan nilai-nilai moral ini dipandu secara apik oleh host dari BPH Sultra, Ni Made Ivo Febrian Putri.
Mimbar keagamaan kali ini membedah sebuah tema yang sangat kontekstual dan relevan dengan dinamika sosial kemasyarakatan masa kini, yakni "Menjaga Kompas Moral: Reaktualisasi Catur Guru di Era Digital". Tema ini diangkat sebagai respons atas makin krusialnya tuntutan etika dalam berinteraksi di ruang publik virtual.
Secara filosofis, ajaran Catur Guru merupakan fundamen etika dan susila dalam ajaran Hindu yang menekankan bakti mendalam kepada empat penuntun hidup utama manusia. Keempat tuntunan tersebut meliputi Guru Swadyaya (Tuhan Yang Maha Esa), Guru Rupaka (Orang tua), Guru Pengajian (Guru atau Pendidik di sekolah), serta Guru Wisesa (Pemerintah dan Negara).
Di era transformasi digital, ruang hidup manusia tidak lagi terisolasi pada dunia nyata, melainkan telah meluas ke ranah maya melalui media sosial. Tanpa pondasi moralitas yang kokoh, interaksi digital dikhawatirkan dapat menjadi liar, destruktif, dan tak terkontrol. Melalui mimbar edukasi ini, para narasumber menyepakati bahwa aktualisasi nilai-nilai Catur Guru merupakan kunci utama untuk menekan sifat-sifat buruk (asuri sampad) di internet. Langkah ini sekaligus menjadi tameng spiritual kemanusiaan yang selaras dengan penegakan hukum formal seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
"Bakti kepada Catur Guru bukan sekadar kewajiban moral normatif, melainkan membawa kemanfaatan dan pahala yang sangat besar bagi kehidupan kita. Berdasarkan tuntunan suci kitab Sarasamuscaya sloka 250, ada empat keutamaan hidup yang akan diperoleh umat manusia yang taat, atau yang disebut sebagai Catur Wrddhi," terang Pande Kadek Juliana.
Juliana kemudian menjabarkan petikan suci tersebut, konsep Catur Wrddhi ini menjadi pilar esensial di era siber. Nilai kirti atau reputasi kebaikan, di zaman sekarang tidak lagi hanya dinilai dari rekam jejak fisik, melainkan juga dari jejak digital (digital footprint) yang ditinggalkan di media sosial. Seseorang yang menanam benih bakti, kesantunan, dan kedamaian dalam ruang digital akan menuai kirti berupa citra diri yang luhur serta dihormati oleh publik virtual.
"Akan pahala hormat bakti terhadap orang tua, ada empat hal yang bertambah sempurna dalam hidup, perinciannya: kirti (pujian atas kebaikan), ayusa (panjang umur atau kelangsungan hidup), bala (kekuatan fisik dan mental), serta yaca (jasa atau peninggalan yang baik). Inilah berkah yang nyata dari penerapan bakti," imbuhnya.
Sementara itu, selaku narasumber pendamping, Kompol Dr. I Gusti Komang Sulastra, S.H., M.H., memberikan ulasan implementatif mengenai implementasi konkret Catur Guru di dunia siber.
"Bagaimana aksi nyata hormat kepada Guru Rupaka atau orang tua di zaman sekarang? Salah satu contohnya adalah dengan penuh kesabaran dan kesantunan membimbing orang tua kita yang mungkin gagap teknologi (gaptek) dalam mengoperasikan smartphone atau melakukan transaksi digital. Secara etika, kita tidak boleh menelantarkan orang tua secara emosional di meja makan demi keasyikan gawai pribadi, serta mutlak tidak mengumbar privasi atau aib keluarga di media sosial demi mengejar konten dan popularitas semata," tegas Gusti Komang.
Sebagai penutup dari dialog yang sarat esensi keagamaan tersebut, jajaran narasumber menitipkan pesan optimisme sekaligus pengingat mendalam bagi seluruh umat. Ditegaskan bahwa teknologi modern sejatinya adalah sarana atau alat penunjang kemudahan (Jnana), namun etika keagamaan dan keluhuran budi pekerti (Susila) tetap menjadi kemudi utama agar manusia tidak kehilangan arah di samudra kemajuan zaman. Sinergi yang harmonis antara kecerdasan intelektual-digital dan kecerdasan spiritual keagamaan diharapkan mampu mencetak generasi Hindu yang tidak hanya cerdas secara teknologi, namun juga bijak dalam bersikap serta teguh dalam mengamalkan ajaran Dharma, demi terwujudnya kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan sosial di tengah masyarakat.