Kendari (Bimas Hindu) - Berkomitmen menunjukkan kehadirannya dalam memberikan pelayanan dan pendampingan spiritual yang inklusif tanpa tebang pilih kepada seluruh umat beragama, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Kendari melalui gerak cepat Penyuluh Agama Hindu, Pande Kadek Juliana melaksanakan kegiatan Bimbingan Rohani (Binroh), Spiritual, dan Mental bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) beragama Hindu yang bertempat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Kendari, Jumat (17/7/2026).
Meskipun pelaksanaan bimbingan keagamaan kali ini hanya diikuti oleh satu orang WBP Hindu, hal tersebut tidak mengurangi esensi, kekhidmatan, maupun kekhusyukan jalannya prosesi ibadah. Dengan didampingi secara langsung oleh petugas Lapas Perempuan, kegiatan ini dirancang secara komprehensif sebagai wadah pemulihan mental dan spiritual. Upaya ini esensial guna memastikan WBP siap menjalani masa pembinaan dengan tegar, sekaligus sebagai bekal kesiapan mental saat kembali ke tengah masyarakat kelak.
Dalam pertemuan bimbingan spiritual tersebut, Pande Kadek Juliana mengetengahkan topik teologis Hindu yang cukup mendalam, yaitu filosofi mengenai "Suci Cemer vs Bersih Kotor". Penjelasan ini sengaja diangkat untuk memberikan pencerahan substansial mengenai dimensi kesucian spiritual kepada warga binaan.
"Sesuatu yang bersih secara fisik belum tentu suci secara spiritual, begitu pula sebaliknya, yang kotor secara fisik belum tentu cemer (kotor secara spiritual/rekat). Aspek lahiriah tidak selalu berbanding lurus dengan aspek batiniah," urai Pande Kadek Juliana.
Melalui pemaparan konsep tersebut, Kemenag Kota Kendari berupaya memotivasi WBP agar senantiasa berfokus pada pembersihan batin, introspeksi diri, dan peningkatan kualitas spiritual. Pendekatan ini diharapkan mampu mengikis bayang-bayang masa lalu serta membantu WBP menghadapi situasi sulit di dalam Lapas dengan penuh kedamaian dan ketabahan.
Rangkaian kegiatan Binroh tersebut berjalan dengan aman, tertib, dan damai. Kegiatan diawali dengan lantunan doa pembuka, kemudian dilanjutkan dengan sesi Dharmatula sebuah metode diskusi dan tanya jawab keagamaan yang interaktif guna membedah persoalan spiritual secara mendalam. Sebagai puncak ritual, ibadah diakhiri dengan pelafalan suci Puja Trisandya dan Japa demi menghadirkan ketenangan jiwa serta kejernihan pikiran bagi warga binaan.
Melalui program pembinaan rohani yang berkesinambungan ini, Kemenag Kota Kendari berharap dapat terus menyalakan lentera harapan, kedamaian, dan optimisme di hati setiap warga binaan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa ruang jeruji besi bukanlah pembatas maupun penghalang bagi seseorang untuk bertumbuh dan bertransformasi ke arah yang lebih baik secara spiritual.