Kemenag Berdampak

Banyak Peserta Ingin MEJAPA Camp Digelar Lagi, Ternyata Rahasianya Bukan Sekadar Ceramah

Para Peserta MEJAPA (Merajut Jalinan Antar Siswa Pasraman) Camp di Kabupaten Lombok Barat.

Lombok Barat (Bimas Hindu) – Pembinaan umat Hindu umumnya dilakukan melalui dharma wacana atau ceramah keagamaan. Namun, pendekatan berbeda diterapkan dalam MEJAPA (Merajut Jalinan Antar Siswa Pasraman) Camp di Kabupaten Lombok Barat. Alih-alih hanya mendengarkan materi, puluhan generasi muda Hindu diajak bermeditasi, mengenali diri, mengendalikan pikiran, serta merenungkan perjuangan orang tua. Metode ini terbukti memberikan pengalaman yang membekas dan dirasakan langsung manfaatnya oleh para peserta sebagai implementasi nyata Kementerian Agama Berdampak.

Dampak pembinaan tersebut tercermin dari antusiasme para peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Wayan Dika Suardana Yasa dari Pasraman Gita Sraya Suranadi mengaku memperoleh pengalaman yang tidak terlupakan.

“MEJAPA Camp sangat menyenangkan, banyak teman yang didapat. Semoga kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan lagi tahun depan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Ayu Rindu dari Pasraman Giri Aji Sengkongo.

“Banyak ilmu yang didapatkan, seru dan banyak teman. Semoga tahun depan ada lagi,” katanya.

Sementara itu, Wayan Sri Jananendra Waskita dari Pasraman Yowana Dharma Satra menilai kegiatan tersebut bukan sekadar kemah, tetapi menjadi bekal menjalani kehidupan.

“Sangat senang ikut kegiatan MEJAPA Camp. Seru, banyak teman, banyak game yang memberi pembelajaran. Semoga ke depan ada lagi kegiatan MEJAPA Camp untuk memberi bekal menjalani kehidupan,” ungkapnya.

Testimoni para peserta tersebut menjadi indikator bahwa pembinaan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berhasil membangun pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan. Para peserta tidak hanya memperoleh teman baru, tetapi juga belajar mengelola emosi, memperkuat karakter, dan meningkatkan kesadaran spiritual.

Sebanyak 60 brahmacari dari berbagai pasraman di Kabupaten Lombok Barat mengikuti kegiatan yang diselenggarakan DPK P3I Kabupaten Lombok Barat di Pasraman Gita Suranadi, Kecamatan Narmada. Pada sesi pembekalan, Kepala Seksi Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat, Ketut Edi Ariawan, mengajak peserta menjalani latihan meditasi sebagai sarana melatih konsentrasi melalui kesadaran terhadap napas (prana). Dari proses tersebut, peserta diajak mengenali dirinya sendiri sehingga mampu mengendalikan pikiran dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Usai meditasi, suasana dibuat hening. Para peserta dipandu melakukan renungan mendalam tentang kasih sayang, doa, dan pengorbanan orang tua sejak mereka dilahirkan. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai dharma tidak sekadar disampaikan sebagai teori, tetapi dihadirkan menjadi pengalaman batin yang menyentuh kesadaran peserta. Banyak di antara mereka yang larut dalam renungan hingga menitikkan air mata ketika menyadari besarnya pengorbanan orang tua.

Ketut Edi Ariawan menjelaskan bahwa tujuan meditasi bukan hanya melatih ketenangan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa guru rupaka, yaitu orang tua, merupakan sosok mulia yang wajib dihormati sebagai manifestasi Tuhan yang hadir dalam kehidupan setiap anak. Melalui kesadaran tersebut diharapkan lahir generasi muda Hindu yang memiliki sraddha dan bhakti, berkarakter kuat, mampu mengendalikan diri, serta menjadikan nilai-nilai dharma sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Dalam kesempatan tersebut, Ketut Edi Ariawan juga mengingatkan bahwa masa depan umat Hindu sangat bergantung pada karakter generasi mudanya.

“Kalian merupakan masa depan Hindu. Wajah Hindu ke depannya tergantung dari bagaimana karakter kalian. Menanamkan sikap mental yang baik merupakan investasi untuk membangun peradaban ke depan,” pesannya kepada seluruh peserta.

Pendekatan pembinaan melalui meditasi dan renungan ini menjadi contoh bagaimana pelayanan Kementerian Agama dapat menghadirkan dampak yang nyata. Nilai-nilai keagamaan tidak hanya dipahami secara intelektual, tetapi diinternalisasi melalui pengalaman yang menyentuh hati, sehingga lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Berita Daerah LAINNYA