Mengapa Orang Baik Menderita dan Orang Jahat Makmur? Penyuluh Lampung Ini Punya Jawabannya!

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada menyampaikan Dharma Wacana di hadapan ribuan pemedek pada puncak pelaksanaan Pujawali ke-81 Pura Kahyangan Jagat Kerthi Bhuana, Way Lunik, Bandar Lampung

Bandar Lampung (Bimas Hindu) – Mengapa ada bayi yang lahir cacat atau miskin, sementara yang lain lahir kaya dan sehat? Mengapa orang jahat hidup makmur, sedangkan orang baik menderita?

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini sering kali melintas di benak manusia saat menyaksikan ketidakadilan dan misteri kehidupan di dunia. Namun, bagi umat Hindu, teka-teki universal ini memiliki jawaban yang sangat logis dan berkeadilan melalui hukum sebab-akibat yang mutlak yaitu Karmaphala. Sebagai salah satu pilar dari lima keyakinan dasar (Panca Sraddha), ajaran Karma Phala menjadi keunggulan sekaligus kompas moral spiritual yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun nasib yang terjadi tanpa adanya alasan perbuatan di masa lalu maupun masa kini.

Esensi mendalam inilah yang digaungkan kembali pada puncak pelaksanaan Pujawali ke-81 Pura Kahyangan Jagat Kerthi Bhuana, Way Lunik, Bandar Lampung, yang berlangsung khidmat pada Sabtu, 27 Juni 2026. Bertepatan dengan perayaan Hari Suci Kuningan, ribuan umat Hindu dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung memadati pura setempat untuk memusatkan persembahyangan.

Pada momentum suci tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan Dharma Wacana di hadapan ribuan pemedek. Mengangkat tema “Nilai-Nilai Karma Phala dalam Kehidupan Sehari-hari,” Ketut membedah bagaimana hukum universal ini bekerja secara adil dan matematis dalam menata moralitas manusia.

"Ajaran Karma Phala mengajarkan bahwa setiap perbuatan, baik maupun buruk, pasti akan menghasilkan akibat yang sepadan," jelas I Ketut Ginada dalam ceramahnya. Melalui pemahaman yang kokoh terhadap hukum sebab-akibat ini, umat Hindu diajak untuk tidak menyalahkan keadaan, melainkan senantiasa menjaga kesadaran batin untuk berpikir, berkata, dan berbuat berdasarkan nilai-nilai dharma. Dengan demikian, kehidupan yang harmonis, damai, dan penuh tanggung jawab dapat terwujud.

Lebih lanjut, Ginada menekankan bahwa implementasi ajaran Karmaphala sejati tidak hanya berhenti pada ritual keagamaan di Pura, melainkan harus membumi dalam keseharian. Bentuk nyata dari keyakinan ini adalah lahirnya sikap jujur, saling menghormati, bekerja dengan keikhlasan, serta konsistensi menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama manusia, alam semesta, dan Tuhan (Tri Hita Karana). Ketika umat memahami bahwa kebaikan yang ditanam hari ini adalah kebahagiaan yang akan dipanen di masa depan, maka motivasi untuk menanam kebajikan akan tumbuh secara alami.

Rangkaian Pujawali ke-81 tahun ini diselenggarakan dengan penuh rasa persaudaraan, di mana Kabupaten Lampung Selatan bertindak sebagai panitia pelaksana. Seluruh tahapan upacara berjalan tertib, aman, dan lancar.

Melalui pelaksanaan ritual suci dan penguatan tattwa (filosofi) agama ini, semangat kebersamaan dan persatuan umat Hindu se-Provinsi Lampung diharapkan kian kokoh. Di tengah dinamika zaman modern, ajaran Panca Sraddha khususnya Karmaphala tetap menjadi jangkar spiritual yang memastikan umat Hindu senantiasa hidup dalam tuntunan dharma demi meraih kerahayuan lahir dan batin.


Berita Daerah LAINNYA