Menggali Sejarah Pura, Penyuluh Hindu Dampingi Pengempon Paibon Manik Bingin

Menggali sejarah pura, menyiapkan generasi penerus Dharma

Klungkung (Bimas Hindu) - Sejarah sebuah pura tidak selalu tersimpan dalam catatan tertulis. Sebagian pengetahuan tentang asal-usul, silsilah, hingga fungsi pelinggih diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Pengetahuan itu kembali digali dalam kegiatan penyuluhan dan bimbingan yang dilakukan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung di Pura Paibon Manik Bingin, Desa Adat Tangkas, Klungkung, Rabu (9/9/2026).

Pura yang diempon 12 kepala keluarga tersebut menjadi ruang bagi para pengempon untuk mendalami sejarah, silsilah, makna, dan fungsi sejumlah pelinggih yang ada di dalamnya.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Dewa Ayu Antari, mengatakan penggalian sejarah dilakukan agar pengempon memahami pura tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga mengetahui nilai yang melatarbelakangi keberadaannya.

“Dalam kegiatan ini kami menggali kembali silsilah, sejarah, makna, dan fungsi pelinggih yang terdapat di Paibon Manik Bingin. Jadi, bukan hanya melihat bentuk fisiknya, tetapi juga memahami nilai dan latar belakang yang menjadi dasar keberadaan setiap pelinggih,” katanya.

Menurut dia, pengetahuan tersebut penting untuk menjaga kesinambungan pemahaman keagamaan sekaligus menjadi bahan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kegiatan itu juga menjadi kesempatan bagi Kelian Pura Paibon Manik Bingin, I Wayan Eka Yana, untuk memperdalam pengetahuannya tentang pura yang menjadi tanggung jawabnya. Ia mengaku masih perlu banyak belajar karena tergolong baru menjalankan peran sebagai kelian.

“Saya ingin terus belajar dan memahami lebih dalam mengenai sejarah serta silsilah Paibon yang kami empon, termasuk makna dan fungsi dari masing-masing pelinggih yang ada. Pengetahuan ini nantinya bisa menjadi bekal untuk saya sampaikan kembali kepada para pengempon maupun generasi berikutnya,” ujarnya.

Selain membahas sejarah pura, penyuluh memberikan bimbingan kepada calon pemangku yang akan menjalani pawintenan. Sejumlah buku keagamaan Hindu, antara lain Sarasamuccaya dan Bhagawadgita, juga diserahkan untuk mendukung proses pembelajaran.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Putu Sri Devi Juniantika, mengatakan kesiapan calon pemangku tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual, tetapi juga pengetahuan dan tanggung jawab dalam menjalankan swadharma.

“Pawintenan Pemangku hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai sebuah prosesi, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas diri dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas suci,” ujarnya.

Menurut Putu Sri Devi, pemahaman mengenai sejarah pura menjadi bagian penting bagi pemangku karena tempat suci memiliki kaitan dengan perjalanan leluhur, hubungan kelompok atau clan, serta perkembangan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Pendampingan di Pura Paibon Manik Bingin menunjukkan bahwa pembinaan umat Hindu juga mencakup pewarisan pengetahuan tentang tempat suci dan penyiapan sumber daya keagamaan di tingkat masyarakat.

Bagi pengempon, penggalian sejarah menjadi cara untuk menjaga pengetahuan tentang pura agar tidak berhenti pada generasi yang saat ini mengetahuinya. Sementara bagi calon pemangku, pendalaman ajaran dan pemahaman tentang swadharma menjadi bekal untuk menjalankan pelayanan keagamaan kepada umat.

Kegiatan tersebut sekaligus mendukung arah kebijakan Kementerian Agama dalam memperkuat layanan keagamaan dan pemberdayaan rumah ibadah, dengan menempatkan pura bukan hanya sebagai tempat pelaksanaan upacara, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pewarisan nilai Dharma.

Kontributor : I Putu Wisnawa Jaya Antika


Berita Daerah LAINNYA