Blitar, Jawa Timur (Bimas Hindu) Pura tidak hanya menjadi ruang untuk membangun hubungan spiritual dengan Tuhan, tetapi juga dapat menjadi contoh bagaimana umat Hindu merawat alam. Pesan tersebut mengemuka dalam Dharma Tula yang digelar STAHN Jawa Dwipa bersama Peradah dan tokoh umat Kabupaten Blitar di Pura Eka Dharma, Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan yang diikuti 60 peserta itu menghadirkan Ketua Peradah Kota Malang sekaligus Pengurus Peradah Jawa Timur Slamet Suyadi dan Duta Dharma Nasional Yuliyono. Forum tersebut mempertemukan unsur perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dalam membangun kesadaran bersama mengenai kelestarian lingkungan.
Pembahasan tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Peserta diajak melihat pelestarian alam sebagai bagian dari implementasi Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis manusia dengan alam. Dengan demikian, kepedulian lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari praktik keagamaan, bukan aktivitas yang berdiri sendiri.
Slamet Suyadi menekankan generasi muda memiliki peran penting untuk memastikan kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti menjadi wacana.
“Pelestarian alam harus menjadi bagian dari kesadaran generasi muda Hindu. Tidak cukup hanya memahami pentingnya lingkungan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari menjaga kebersihan, merawat lingkungan pura, mengurangi sampah, hingga membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap alam,” ujar Slamet.
Pesan tersebut menempatkan generasi muda bukan sekadar sebagai peserta kegiatan keagamaan, tetapi sebagai pelaku yang dapat membangun kebiasaan baru. Mulai dari mengurangi sampah, merawat tanaman, hingga menjaga kebersihan tempat suci dapat menjadi bentuk sederhana pelaksanaan Dharma.
Yuliyono menambahkan, lingkungan pura perlu mendapatkan perhatian karena ruang spiritual juga seharusnya mencerminkan kepedulian terhadap alam.
“Pura harus menjadi contoh bahwa kehidupan spiritual dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Yuliyono.
Melalui kolaborasi tersebut, STAHN Jawa Dwipa mendorong agar nilai Palemahan tidak hanya dipahami secara konseptual. Implementasinya dapat dimulai dari tindakan yang dekat dengan kehidupan umat, seperti menjaga kebersihan pura, merawat tanaman, serta menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.
Dharma Tula di Blitar sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara kampus, organisasi pemuda, dan umat. Ketika pendidikan agama, kepemudaan, dan kepedulian lingkungan bertemu dalam satu gerakan, ekoteologi dapat hadir bukan sekadar sebagai tema diskusi, tetapi sebagai kebiasaan yang hidup di lingkungan pura dan masyarakat.
Kontributor : Toto Margiyono