Kendari (Bimas Hindu) – Kantor Kementerian Agama Kota Kendari terus memperkuat pembinaan mental dan spiritual bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) beragama Hindu di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari. Melalui program bimbingan rohani (Binroh) yang dilaksanakan secara rutin, para WBP dibekali nilai-nilai keagamaan sebagai bekal menjalani masa pembinaan sekaligus mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin (20/7/2026) tersebut dipandu Penyuluh Agama Hindu Ahli Muda Kemenag Kota Kendari, Pande Kadek Juliana. Sebanyak tiga dari empat WBP beragama Hindu mengikuti rangkaian pembinaan dengan penuh antusias dan khidmat.
Program ini merupakan bagian dari upaya pembinaan spiritual yang berfokus pada penguatan karakter, pemulihan mental, serta peningkatan kualitas keagamaan warga binaan agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Kepala Bidang Pembimbingan Kemasyarakatan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tenggara, I Gede Artayasa, mengatakan pembinaan tersebut merupakan implementasi kerja sama berkelanjutan antara Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Sulawesi Tenggara dan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara.
"Kami bersyukur ada tenaga penyuluh dari Kemenag Kota Kendari yang secara periodik setiap minggu hadir memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi warga binaan kami. Apresiasi luar biasa bagi Kemenag karena ini merupakan wujud kerja sama yang telah ditandatangani oleh pimpinan kami," ujar Artayasa.
Pada pelaksanaan kali ini, materi yang disampaikan mengangkat tema "Menjalani Kehidupan di Zaman Kaliyuga", yang dipilih berdasarkan permintaan langsung dari warga binaan. Tema tersebut diangkat sebagai respons atas keinginan mereka untuk memahami perubahan sosial dan tantangan kehidupan beragama di era modern.
Dalam penyampaiannya, Pande Kadek Juliana menjelaskan bahwa ajaran Dharma menjadi landasan utama dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan pada zaman Kaliyuga yang identik dengan kemerosotan moral dan perubahan sosial yang begitu cepat.
"Memahami karakteristik zaman Kaliyuga membantu kita untuk tidak tergerus oleh sisi negatif peradaban. Justru di zaman inilah teguhnya prinsip Dharma dan keheningan batin menjadi kunci utama agar kita tetap selamat dan menemukan kedamaian," kata Juliana.
Ia juga mengutip ajaran Slokantara Sloka 61 yang menggambarkan karakter masyarakat pada zaman Kaliyuga, di mana manusia mudah saling menyalahkan, saling menjatuhkan, dan kehilangan pegangan moral. Karena itu, menurutnya, umat Hindu harus tetap berpegang teguh pada kebajikan dan tidak mengikuti perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Dharma.
"Orang yang berbudi luhur hendaknya tidak mengikuti jalan pikiran orang-orang jahat pada zaman Kali Yuga. Dharma harus menjadi pegangan agar manusia tetap mampu menjaga ketenangan batin dan hidup dalam kebajikan," tuturnya.
Kegiatan berlangsung di bawah pengawasan petugas Lapas Kelas IIA Kendari dan berjalan dengan aman serta tertib. Rangkaian pembinaan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan penyampaian materi, sesi dharmatula atau diskusi keagamaan interaktif, kemudian ditutup dengan pelantunan Puja Trisandya yang berlangsung khusyuk.
Pembinaan rohani yang dilaksanakan secara rutin tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran spiritual warga binaan selama menjalani masa pidana. Melalui penguatan nilai-nilai Dharma, para WBP diharapkan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai ruang introspeksi, memperbaiki diri, serta membangun bekal moral dan spiritual yang kuat untuk menjalani kehidupan secara lebih baik setelah kembali ke masyarakat.