Jepara (Bimas Hindu) -Nuansa kerukunan dan toleransi antarumat beragama terpancar nyata di Desa Plajan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara. Fenomena sosial-keagamaan yang sarat akan nilai luhur ini mengemuka saat Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Eko Pujianto, menghadiri persembahyangan Pitra Puja 7 hari meninggalnya salah satu sesepuh umat Hindu Kabupaten Jepara, Minggu (21/6). Kehadiran fungsional bimbingan masyarakat ini menjadi bukti nyata komitmen Kementerian Agama dalam mengawal dan merawat moderasi beragama langsung di tengah-tengah kehidupan masyarakat bawah.
Kehadiran Eko Pujianto dalam upacara sakral ini tidak hanya diniatkan untuk memberikan penghormatan terakhir secara personal kepada mendiang sesepuh, melainkan juga untuk memberikan pendampingan teologis melalui penyampaian Dharmawacana yang menyejukkan di hadapan segenap umat yang hadir. Dalam wejangan sucinya, Eko Pujianto mengingatkan kembali esensi mendasar dari ajaran Hindu mengenai hakikat eksistensi manusia di dunia, di mana kematian bukanlah sebuah akhir yang mutlak, melainkan bagian dari hukum alam yang mengikat setiap makhluk hidup.
“Dalam ajaran Hindu, uttpati (lahir), sthiti (hidup), dan pralina (kematian) adalah sebuah siklus kehidupan yang tidak bisa kita hindari. Kita harus memahami dan mengikhlaskan kepergian sang sesepuh sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang memang harus dilalui oleh setiap manusia untuk kembali kepada sang pencipta,” ujar Eko Pujianto secara khidmat di hadapan pemeluk Hindu yang hadir.
Lebih dari sekadar ritualistik keagamaan, Pembimas Hindu Jateng secara khusus menyoroti potret humanis yang tertangkap sepanjang prosesi adat berlangsung. Upacara Pitra Puja kali ini terasa sangat menyentuh rasa kemanusiaan karena dihadiri bukan hanya oleh umat Hindu, melainkan juga oleh warga tetangga sekitar yang beragama Islam. Walau tidak melebur dalam prosesi ritual keagamaan secara langsung, kehadiran fisik umat Muslim yang datang dengan tulus untuk menyampaikan belasungkawa membuktikan bahwa ikatan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) dan konsep tat twam asi telah membumi dengan sangat kuat di wilayah tersebut.
Eko Pujianto memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kedewasaan beragama yang ditunjukkan oleh warga Desa Plajan. Menurutnya, pemandangan kebersamaan di tengah duka tanpa menyekat perbedaan keyakinan ini merupakan sebuah contoh konkret yang sangat luhur dan patut direplikasi oleh berbagai daerah lain di seluruh Indonesia dalam menjaga stabilitas nasional.
“Terasa sangat istimewa yang juga belum tentu ada di tempat lain, di mana upacara Pitra Puja ini dihadiri bukan hanya umat Hindu, tetapi umat Muslim yang tentu tidak mengikuti ritualnya. Sehingga kerukunan, toleransi antarumat beragama telah secara nyata dilaksanakan di wilayah ini,” pungkas Eko dengan penuh rasa bangga.
Melalui momentum Pitra Puja ini, Desa Plajan kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu potret nyata laboratorium toleransi di Jawa Tengah. Kehadiran negara melalui jajaran Kemenag di tengah dinamika lokal ini mempertegas bahwa perbedaan keyakinan bukanlah pemisah, melainkan sebuah mozaik indah yang justru menjadi perekat kebersamaan yang kokoh di saat duka maupun suka.