Malang (Bimas Hindu) – Menjelang pelaksanaan Piodalan Pura Giri Murti Sakti, umat Hindu di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menggelar upacara tradisi Matur Piuning ke Pesarehan atau Punden Mbah Gemi, Mbah Simpen, dan Mbah Sariman pada Jumat (17/07/2026).
Kegiatan spiritual yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh para Pinandita, Pemangku, tokoh agama, serta puluhan umat Hindu setempat. Prosesi ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan mendalam kepada para leluhur, sekaligus memohon restu agar seluruh rangkaian pujawali/piodalan mendatang dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan penuh berkah.
Rangkaian upacara diawali dengan persembahyangan bersama di masing-masing pesarehan sebagai wujud bhakti. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan antarumat kian kental saat kegiatan ditutup dengan ramah tamah serta menikmati prasadam (makanan suci) bersama.
Usai melaksanakan prosesi di ketiga punden tersebut, rombongan umat melanjutkan Maturan Bhakti di Sanggar Tri Dharma Bhakti. Sanggar ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi bagi perkembangan umat Hindu di Kasembon, karena menjadi saksi bisu tempat awal mulanya kegiatan keagamaan dan pasraman dirintis sebelum Pura Giri Murti Sakti resmi berdiri.
Sesepuh umat Hindu Kasembon, Mbah Jumadi, secara emosional mengenang kembali memori masa lalunya di sanggar tersebut. Ia mengisahkan bagaimana tempat tersebut menjadi pilar utama pendidikan agama bagi generasi terdahulu.
"Dulu waktu saya masih kecil, sembahyang atau sarasehan ya di sanggar ini. Di sinilah tempat belajar agama karena dulu belum didirikan pura. Jadi sangat benar jika kita sebagai generasi penerus tidak lupa dengan jasa para leluhur terdahulu," ungkap Mbah Jumadi mengenang sejarah.
Pada kesempatan yang sama, Romo Suprih menyampaikan bahwa esensi dari Matur Piuning ini adalah penyampaian warta spiritual sekaligus permohonan tuntunan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui restu para leluhur.
"Upacara Matur Piuning ini maknanya kita paring pirso (memberi tahu) dan paring kaweruh (menyampaikan) kepada para leluhur. Kita memohon anugerah agar diberikan kelancaran dalam melaksanakan seluruh rangkaian Piodalan Pura Giri Murti Sakti yang akan datang," tutur Romo Suprih.
Sementara itu, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, Yeni Susanti, S.Pd.H., menegaskan pentingnya menjaga tradisi suci ini dari kacamata pembinaan umat. Menurutnya, Matur Piuning bukan sekadar rutinitas ritual, melainkan instrumen edukasi sejarah bagi generasi muda Hindu.
"Melalui upacara ini, kita memohon izin dan perlindungan agar kegiatan keagamaan berjalan tanpa hambatan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi pengingat kolektif bagi kita semua bahwa generasi sekarang tidak boleh melupakan jasa para leluhur yang telah berjuang merintis dan menjaga eksistensi serta keberlangsungan kehidupan beragama umat Hindu di Kasembon," tegas Yeni Susanti dalam pembinaannya.
Melalui sinergi kegiatan Matur Piuning dan Maturan Bhakti ini, Humas Bimas Hindu mencatat adanya kesiapan spiritual yang matang dari umat Hindu Kasembon dalam menyambut Piodalan. Langkah ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen umat dalam memperkuat nilai bhakti, menghargai sejarah lokal, serta menjaga kesinambungan tradisi keagamaan yang diwariskan leluhur dari generasi ke generasi.