BANYUWANGI (BIMAS HINDU) – Pelaksanaan upacara suci sejatinya bukanlah sekadar perayaan ritual yang bersifat seremonial, melainkan wujud penyatuan mikrokosmos dan makrokosmos guna mencapai keharmonisan sejati di alam semesta. Berlandaskan kesadaran spiritual untuk terus merawat bakti kepada Tuhan Sang Pencipta dan menghormati jejak luhur para pendahulu, ribuan umat Hindu memadati Pura Tirta Wening yang berlokasi di Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, pada Jumat (24/07/2026).
Kehadiran ribuan umat ke tempat suci ini adalah dalam rangka mengikuti puncak rangkaian Karya Agung yang mencakup tiga dimensi pengorbanan suci sekaligus, yakni Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya. Upacara sakral yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan ini menjadi manifestasi nyata dari pengabdian umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bentuk penghormatan dan penyucian arwah para leluhur, serta sarana penyucian diri manusia itu sendiri.
Kegiatan keagamaan berskala besar ini dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan daerah dan tokoh lintas sektoral yang bersinergi dalam melayani umat. Turut hadir membaur bersama masyarakat Hindu adalah Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Oksan Wibowo, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja yang hadir mewakili Bupati Banyuwangi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Tegaldlimo, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Tegaldlimo, para pendeta suci, tokoh agama, serta umat dari berbagai penjuru daerah.
Ketua Panitia Karya Agung, Suyanto, dalam laporannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh umat yang telah tulus bergotong royong atau ngayah, baik melalui sumbangsih tenaga, materi, maupun pikiran. Ia memaparkan bahwa Karya Agung ini memiliki makna teologis yang sangat esensial.
"Dewa Yadnya menjadi medium utama penyucian tempat suci. Kemudian Manusa Yadnya diwujudkan melalui prosesi pawintenan sebagai langkah penyucian diri manusia secara fisik dan batin, sedangkan Pitra Yadnya yang dilaksanakan melalui upacara Entas-Entas merupakan bentuk bakti tertinggi untuk menyempurnakan perjalanan suci roh para leluhur menuju kedamaian abadi," jelas Suyanto.
Menyambung makna luhur tersebut, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Oksan Wibowo, mengajak seluruh umat untuk senantiasa merajut rasa syukur atas terlaksananya salah satu Karya Agung terbesar di wilayah Banyuwangi. Ia juga mengapresiasi dukungan nyata dari pemerintah daerah, khususnya terkait pengesahan Surat Keputusan Lembaga Pengembangan Dharma Gita oleh Bupati Banyuwangi.
"Kegiatan mulia ini bukanlah sekadar rutinitas prosesi adat, melainkan bentuk bakti yang paling murni kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur yang telah mewariskan kehidupan bagi kita. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh umat, panitia, para sulinggih, hingga dukungan tim dari Bali yang telah ngayah tanpa pamrih. Namun satu hal yang perlu kita ingat, prosesi Entas-Entas untuk menyucikan roh leluhur ini harus diimbangi dengan laku nyata di dunia. Jangan hanya berbakti kepada mereka yang telah tiada, tetapi hormatilah dan muliakanlah juga orang tua serta para guru yang masih hidup dan senantiasa membimbing kita," tutur Oksan Wibowo memberikan pencerahan rohani.
Mewakili jajaran pemerintahan, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja, menyampaikan permohonan maaf dari Bupati Banyuwangi yang berhalangan hadir, seraya menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam merawat keharmonisan dan mendukung pelestarian budaya.
"Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akan selalu hadir dan berkomitmen menjaga kerukunan dengan seluruh umat, termasuk umat Hindu. Upacara sakral yang syarat makna seperti ini harus terus kita lestarikan bersama. Selain sebagai upaya mulia dalam merawat warisan budaya, kegiatan ini menjadi benteng spiritualitas dan medium ampuh untuk mempererat semangat gotong royong. Semangat kebersamaan umat yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya demi kelancaran Karya Agung ini adalah kekuatan utama tegaknya ketahanan budaya di tanah Banyuwangi," ungkap Komang Sudira Atmaja.
Rangkaian Karya Agung di Pura Tirta Wening ini diharapkan tidak berhenti pada selesainya prosesi ritual semata, melainkan menjadi momentum kebangkitan spiritual untuk memperkuat keyakinan (sraddha) dan pengabdian (bhakti). Nilai-nilai gotong royong yang terbangun dari acara ini menjadi fondasi kokoh untuk memastikan bahwa warisan luhur tradisi Hindu akan terus hidup, berkembang, dan diwariskan dengan utuh kepada generasi penerus.