Jakarta (BIMAS HINDU) - Jelang peringatan momentum penting di bulan Mei, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu menggelar podcast bertajuk “May Day: Buruh dalam Perspektif Dharma dan Persatuan Bangsa”. Kegiatan ini menghadirkan Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., sebagai narasumber, yang dipandu oleh host Saraswati Yoga, Selasa (28/04/2026).
Dalam perbincangan tersebut, Dirjen Bimas Hindu menekankan bahwa bulan Mei menjadi periode yang cukup istimewa karena diwarnai sejumlah momen besar, seperti Hari Buruh Nasional (1 Mei), Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei). Menurutnya, seluruh momentum ini merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang perlu dihormati bersama.
Prof. I Nengah Duija menyampaikan bahwa umat Hindu pada dasarnya mendukung penyampaian aspirasi selama dilakukan secara santun, damai, dan sesuai dengan aturan yang berlaku. “Sebagai bagian dari bangsa, kita menjunjung tinggi nilai-nilai Catur Guru, yakni menghormati orang tua, guru, pemerintah, dan Tuhan. Ini menjadi landasan dalam bersikap, termasuk dalam merespons berbagai dinamika sosial,” ujarnya.
Lebih lanjut, beliau mengajak umat Hindu untuk mengedepankan nilai Vasudhaiva Kutumbakam bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga serta Tat Twam Asi, yang mengajarkan bahwa orang lain adalah bagian dari diri kita sendiri. Nilai-nilai ini dinilai penting agar setiap aksi atau penyampaian aspirasi tidak menimbulkan konflik maupun merugikan pihak lain.
Dalam diskusi tersebut juga dissampaikan arahan dari Wakil Menteri Agama yang secara khusus menekankan pentingnya edukasi literasi digital untuk mencegah provokasi. Di era sekarang, penyebaran informasi yang begitu cepat dinilai menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi generasi muda.
“Kalau dulu kita sering mendengar ‘mulutmu harimaumu’, sekarang di era digital justru ‘jempolmu harimaumu’. Artinya, apa yang kita tulis dan bagikan di media sosial bisa berdampak besar,” ungkapnya.
Karena itu, Prof. I Nengah Duija kembali mengingatkan pentingnya prinsip saring sebelum sharing sebagai bentuk pendinginan sosial di tengah derasnya arus informasi. Umat Hindu, khususnya generasi muda, diharapkan tidak mudah terpancing oleh narasi provokatif atau informasi yang belum terverifikasi.
Beliau menghimbau para tokoh agama Hindu, lembaga dan organisasi keagamaan Hindu, serta satuan pendidikan keagamaan Hindu dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi untuk memperkuat konsolidasi. Upaya ini diharapkan dapat mendorong terciptanya narasi yang menyejukkan dan harmonis di lingkungan masing-masing.
Dirjen Bimas Hindu juga menyoroti pentingnya peran lembaga keagamaan, pendidikan, serta organisasi masyarakat Hindu dalam menjaga suasana tetap kondusif. Ia berharap seluruh elemen, mulai dari perguruan tinggi, pasraman, hingga penyuluh agama, dapat turut mengawal umat agar tidak terjebak dalam narasi provokatif, terutama di ruang digital.
Prof. I Nengah Duija juga mengingatkan bahwa penyebaran informasi palsu atau hoaks tidak hanya merugikan individu, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas sosial. Oleh sebab itu, umat Hindu diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan justru aktif menyebarkan konten-konten positif yang menyejukkan.
Menutup pernyataannya, Dirjen Bimas Hindu mengajak seluruh umat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan media sosial sebagai ruang membangun narasi damai. “Kalau ada satu konten negatif, mari kita imbangi dengan seratus bahkan seribu konten positif. Dengan begitu, ruang digital kita akan dipenuhi pesan-pesan yang menenangkan,” ungkapnya.
Beliau berharap, dengan pemahaman agama yang baik serta komitmen bersama menjaga persatuan, bulan Mei dapat dilalui dengan damai tanpa gejolak. Dukungan umat terhadap program pemerintah pun dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.
“Semoga seluruh rangkaian kegiatan di bulan Mei berjalan dengan penuh kesadaran, kedamaian, dan tidak ada tindakan yang membahayakan siapa pun. Karena pada dasarnya, ajaran agama tidak pernah membenarkan kekerasan,” pungkasnya.