Serpong, (BIMAS HINDU) - Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan perlunya perumusan ulang arah pembinaan umat beragama agar mampu menjawab dinamika sosial, budaya, dan global di masa mendatang. Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Lokakarya Kementerian Agama bertajuk “Mempersiapkan Umat Masa Depan” yang berlangsung di Serpong, Tangerang, Senin (15/12/2025).
Dalam kegiatan yang digelar oleh Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama itu, Menag menyampaikan bahwa langkah strategis dalam mempersiapkan umat masa depan harus diawali dengan pemahaman menyeluruh terhadap ruang kerja dan konteks sosial tempat Kementerian Agama menjalankan tugas pelayanan publik.
Menurut Menteri Agama, pemetaan yang jelas atas “lingkungan pacu” Kementerian Agama akan menjadi dasar penting untuk melakukan peninjauan kembali terhadap visi dan misi kementerian, tanpa keluar dari arah kebijakan nasional yang ditetapkan Presiden. Dengan fondasi tersebut, Kementerian Agama diharapkan mampu merumuskan strategi pembinaan umat yang lebih relevan dan berdaya guna.
Lebih lanjut, Menteri Agama menggarisbawahi pentingnya mempersiapkan umat yang memiliki kualitas unggul, baik dari sisi karakter, wawasan, maupun kesiapan menghadapi perubahan zaman. Ia menyebut bahwa Kementerian Agama memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk umat terbaik (khaira ummah) yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan sosial dan teknologi.
Dalam paparannya, Menteri Agama juga menyoroti tantangan utama kehidupan beragama saat ini, yakni adanya kesenjangan antara nilai-nilai ajaran agama dengan praktik kehidupan pemeluknya, serta antara agama dan realitas sosial yang terus berubah. Kondisi ini, menurutnya, sering kali dirasakan lebih kuat oleh generasi muda yang hidup di tengah tuntutan rasionalitas, kebebasan berpikir, dan kemajuan teknologi.
“Kementerian Agama harus mampu memainkan peran sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan dinamika kehidupan modern,” tegas Menag.
Selain tantangan domestik, Menag turut mengingatkan adanya pengaruh megatren global terhadap kehidupan beragama. Perubahan geopolitik dunia, pergeseran dari konsep negara bangsa menuju masyarakat jejaring, serta berbagai peristiwa global dinilai turut membentuk pola keberagamaan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Menteri Agama menilai Indonesia memiliki keunggulan berupa tumbuhnya seluruh agama secara bersamaan sebagai modal sosial strategis bagi pembangunan nasional.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin dalam laporannya menjelaskan bahwa lokakarya ini diselenggarakan sebagai ruang dialog strategis untuk menghimpun pandangan dari berbagai pemangku kepentingan. Peserta berasal dari unsur akademisi, peneliti, tokoh agama, perwakilan kementerian dan lembaga, serta organisasi kemasyarakatan keagamaan.
Ia menyampaikan bahwa hasil lokakarya diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan Outlook Kehidupan Beragama Kementerian Agama Tahun 2026, yang mencerminkan kondisi riil di masyarakat serta dapat dijadikan rujukan dalam perumusan kebijakan publik Kementerian Agama ke depan.
Lokakarya ini menghadirkan narasumber dari kalangan tokoh agama dan budayawan, pimpinan organisasi keagamaan, akademisi, serta tokoh masyarakat. Adapun peserta kegiatan meliputi pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama, kepala kantor wilayah Kementerian Agama, serta pimpinan perguruan tinggi keagamaan negeri di seluruh Indonesia.