Mataram (BIMAS HINDU) - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija, menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai Hari Suci Nyepi sebagai landasan membangun harmoni sosial dan kemajuan daerah dalam perayaan Dharma Shanti Tahun Baru Saka 1948 di Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (12/4/2026).
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tema yang diusung, “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga untuk NTB Makmur Mendunia,” mencerminkan ajaran universal tentang persaudaraan umat manusia tanpa sekat perbedaan.
“Vasudhaiva Kutumbakam mengajarkan bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar. Kita hidup di bumi yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga keharmonisan,” ujar Prof. I Nengah Duija.
Ia menambahkan, nilai tersebut sejalan dengan makna Nyepi sebagai momentum spiritual untuk mencapai kedamaian batin dan keseimbangan hidup. Menurutnya, Nyepi bukan sekadar tradisi, melainkan proses refleksi mendalam melalui pelaksanaan Catur Brata Panyepian.
“Nyepi adalah perjalanan batin menuju kesunyian yang penuh makna, di mana kita mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, dan menjernihkan batin,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hakikat Nyepi adalah menuju sunya atau kekosongan batin yang bukan berarti kehampaan, melainkan ruang untuk menemukan kejernihan, kedamaian, dan jati diri sejati.
“Dalam keheningan Nyepi, kita tidak hanya menemukan diri yang murni, tetapi juga menyadari keterhubungan kita dengan seluruh ciptaan,” ungkapnya.
Menurutnya, implementasi nilai-nilai tersebut sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam membangun daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara spiritual dan sosial.
“Makmur tidak hanya berarti sejahtera secara material, tetapi juga harus disertai keseimbangan spiritual, harmoni sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum Dharma Shanti sebagai titik transformasi menuju kesadaran kolektif yang lebih luas.
“Ketika kita menyadari bahwa kita adalah satu keluarga, maka tidak ada ruang bagi konflik dan perpecahan. Inilah esensi dari Vasudhaiva Kutumbakam,” katanya.
Di akhir sambutannya, Prof. I Nengah Duija menyampaikan harapan agar perayaan Nyepi dapat membawa kedamaian lahir dan batin serta memperkuat komitmen dalam membangun kehidupan yang harmonis, adil, dan sejahtera.
“Semoga melalui keheningan Nyepi, kita memperoleh kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan penuh kedamaian,” pungkasnya.