Jakarta (Bimas Hindu) – Menyambut arus mudik Lebaran 2026, beberapa Rumah Ibadah Agama Hindu di daerah membuka layanan “Rumah Ibadah Ramah Pemudik” sebagai tempat singgah bagi para pemudik yang melakukan perjalanan jauh untuk merayakan Idulfitri 1447 H bersama keluarga.
Program ini menjadi wujud nyata nilai toleransi, kepedulian, dan persaudaraan antarumat beragama di Indonesia. Sejumlah pura di jalur strategis mudik disiapkan sebagai tempat beristirahat sementara bagi para pemudik, baik untuk melepas lelah, menggunakan fasilitas sanitasi, maupun beribadah sesuai kebutuhan masing-masing.
Terdapat beberapa titik lokasi rumah ibadah agama Hindu yang menjadi bagian dari program ini yang tersebar di Jawa Barat, Daerah Istimewa Jogjakarta, Jawa Timur, dan Bali. Salah satu rumah ibadah yang berpartisipasi adalah Pura Agung Tirta Buana di Bekasi, Jawa Barat, yang membuka area persinggahan bagi pemudik jalur darat.
Di Daerah Istimewa Yogjakarta, Pura Giri Natha di Kabupaten Gunung Kidul turut membuka area persinggahan bagi para pemudik yang melintasi jalur selatan sebagai tempat beristirahat sejenak di tengah perjalanan. Sementara itu, di Jawa Timur, Pura Jala Siddhi Amertha yang berada di jalur strategis menuju wilayah timur Pulau Jawa juga siap menjadi tempat singgah bagi para pemudik.
Sementara itu di Pulau Bali, sejumlah pura yang berada di jalur strategis perjalanan antardaerah juga turut berpartisipasi dalam program ini, di antaranya Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung, Pura Majapahit di Kabupaten Jembrana, Pura Jagatnatha Buleleng, Pura Ponjok Batu Buleleng, serta Pura Pulaki di wilayah Buleleng. Pengurus pura bersama umat setempat menyediakan berbagai fasilitas dasar seperti tempat istirahat, air minum, serta area parkir yang memadai.
Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, menyampaikan dukungannya secara penuh terhadap program ini. Beliau menegaskan bahwa inisiatif tersebut mencerminkan nilai luhur ajaran Hindu yang menjunjung tinggi prinsip Tat Twam Asi, bahwa semua manusia pada hakikatnya adalah satu keluarga besar. Beliau ingin memastikan bahwa kehadiran institusi keagamaan dapat dirasakan manfaatnya secara universal melalui aksi nyata kemanusiaan.
"Kami ingin memastikan bahwa kehadiran institusi keagamaan dapat dirasakan manfaatnya secara universal. Program Rumah Ibadah Ramah Pemudik ini bukan sekadar penyediaan fasilitas fisik, melainkan pesan kuat tentang moderasi beragama yang menyentuh aspek kemanusiaan paling mendasar," ujar Prof. Duija.
Dirjen Bimas Hindu menjelaskan bahwa pada umumnya rumah ibadah Agama Hindu memang tidak berada di jalur utama arus mudik karena banyak yang terletak di wilayah pegunungan maupun pedesaan. Namun demikian, sejumlah pura yang berada di jalur strategis tetap berupaya maksimal membuka ruang pelayanan bagi masyarakat.
Menurut Prof. I Nengah Duija, langkah ini menunjukkan bahwa rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat persembahyangan, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat luas, terutama pada momentum mudik Lebaran ketika jutaan orang melakukan perjalanan panjang.
Dalam pernyataan tambahannya, Prof. I Nengah Duija juga mengimbau agar para pengelola pura tetap mengedepankan aspek kebersihan dan keramahan dalam menyambut para pemudik.
"Saya meminta kepada para pengelola pura untuk menyambut saudara-saudara kita yang sedang mudik dengan tangan terbuka dan penuh rasa persaudaraan. Jadikan pura sebagai oase keteduhan di tengah lelahnya perjalanan mereka, sehingga semangat moderasi beragama ini benar-benar terasa nyata di lapangan," tambahnya.
Melalui program ini, umat Hindu di berbagai daerah diharapkan dapat terus berperan aktif dalam menjaga harmoni sosial serta memperkuat semangat kebersamaan di tengah keberagaman bangsa. Kehadiran pura sebagai tempat singgah bagi pemudik menjadi simbol bahwa nilai toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial tetap hidup dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Dengan semangat saling menghormati dan membantu, diharapkan perjalanan mudik Idulfitri 2026 dapat berlangsung aman, nyaman, dan penuh kebersamaan bagi seluruh masyarakat.