DENPASAR (Bimas Hindu) - Tradisi Ngelawar dimaknai sebagai implementasi nilai-nilai ekoteologi dalam kehidupan beragama dan tata kelola kelembagaan. Tidak sekadar mengolah kuliner khas Bali, Ngelawar menjadi simbol kesadaran spiritual dalam mengelola anugerah alam secara bijaksana serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Hyang Widhi Wasa.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija didampingi Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Ida Made Pidada Manuaba, Direktur Pendidikan Hindu I Ketut Sudarsana, Kakanwil Kemenag Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha, beserta jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Minggu (15/2/2026), di Denpasar.
Kegiatan yang dilaksanakan di rumah dinas Kakanwil Kemenag Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha tersebut merupakan ungkapan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya dengan lancar dan sukses. Momentum ini sekaligus menjadi ajang mempererat soliditas internal dan membangun semangat kebersamaan antarpimpinan serta pegawai.
Sejak pagi hari, seluruh Pejabat dan Jajarannya terlibat aktif dalam proses Ngelawar. Mulai dari menyiapkan bahan seperti daging, kelapa parut, kacang panjang, nangka muda, dan rempah-rempah khas Bali, hingga mencacah dan mencampur bumbu (base) secara bersama-sama. Setiap tahapan dilakukan dengan pembagian tugas yang terstruktur, mencerminkan keteraturan dan sinergi dalam bekerja.
Dalam perspektif ajaran Hindu, tradisi Ngelawar tidak hanya dipahami sebagai kegiatan kuliner, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Setiap unsur bahan yang diolah berasal dari alam sebagai bagian dari ciptaan Hyang Widhi Wasa. Proses pengolahannya dilakukan dengan kesadaran, ketelitian, serta rasa tanggung jawab, sehingga mencerminkan prinsip harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan sebagaimana diajarkan dalam konsep ekoteologi.
Kehadiran Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan nilai-nilai spiritualitas dalam kehidupan birokrasi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengabdian dan pelayanan keagamaan tidak terlepas dari kesadaran ekologis dan spiritual, di mana tata kelola organisasi selaras dengan nilai keseimbangan dan keharmonisan.
Melalui kegiatan Ngelawar bersama ini, mempertegas komitmen untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kelembagaan. Dengan demikian, pelayanan keagamaan diharapkan semakin berlandaskan kesadaran spiritual, kebersamaan, serta tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.