Jakarta (Humas Hindu) – Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu terus memperkuat penyelenggaraan pendidikan keagamaan Hindu melalui satuan pendidikan formal Widyalaya, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu.
Widyalaya merupakan satuan pendidikan formal berciri khas agama Hindu yang bertujuan mempersiapkan peserta didik agar memiliki akhlak mulia, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta kemandirian hidup guna melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Prof. I Nengah Duija, menjelaskan bahwa keberadaan Widyalaya menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan nasional yang memperkuat karakter dan spiritualitas peserta didik sesuai nilai-nilai dharma.
“Widyalaya hadir untuk membentuk generasi Hindu yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing, serta mampu mengimplementasikan ajaran dharma dalam kehidupan sehari-hari. Inilah wujud nyata ekosistem pendidikan keagamaan Hindu yang berkeadaban dan moderat,” ujar Dirjen Bimas Hindu di Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Program penguatan Widyalaya di tahun 2025 ini menjadi salah satu program prioritas Menteri Agama, Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., dalam rangka memperkuat sistem pendidikan keagamaan di Indonesia. Menteri Agama memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Widyalaya sebagai bagian dari transformasi pendidikan keagamaan yang inklusif, moderat, dan berkeadaban.
“Kementerian Agama menempatkan pendidikan keagamaan sebagai fondasi penting dalam membangun bangsa yang berkarakter. Melalui Widyalaya, kita ingin memastikan generasi muda Hindu tumbuh dengan semangat kebangsaan yang kuat, memiliki spiritualitas mendalam, dan menjunjung tinggi nilai toleransi,” ujar Menag
Menag juga menegaskan, penguatan lembaga Widyalaya bukan hanya upaya meningkatkan mutu pendidikan umat Hindu, tetapi juga menjadi strategi nasional dalam menanamkan nilai-nilai Moderasi Beragama sejak dini.
“Saya mendukung penuh langkah Direktorat Jenderal Bimas Hindu dalam memperluas dan memperkuat lembaga Widyalaya. Ini adalah bagian dari upaya besar kita membangun sistem pendidikan keagamaan yang inklusif dan relevan dengan tantangan zaman,” tegas Menag.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, saat ini terdapat 140 Widyalaya yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, dengan rincian sebagai berikut:
• Pratama Widyalaya (setara PAUD dan SD): 107 lembaga, 412 guru, dan 2.871 siswa
• Adi Widyalaya (setara SMP): 16 lembaga, 120 guru, dan 858 siswa
• Madyama Widyalaya (setara SMA): 10 lembaga, 125 guru, dan 354 siswa
• Utama Widyalaya (setara pendidikan tinggi Hindu): 5 lembaga, 71 guru, dan 349 siswa
• Utama Widyalaya Kejuruan (pendidikan kejuruan berciri Hindu): 2 lembaga, 12 guru, dan 45 siswa
Menurut Prof. Duija, data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Widyalaya terus berkembang dan menjadi pilihan masyarakat Hindu dalam memperoleh pendidikan formal yang berbasis nilai-nilai luhur keagamaan.
“Kementerian Agama berkomitmen memperkuat mutu pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, serta pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan spirit keagamaan,” ujarnya.
Selain fungsi pendidikan, Widyalaya juga berperan sebagai pusat pembinaan karakter, pengembangan seni dan budaya Hindu, serta laboratorium implementasi Moderasi Beragama di lingkungan pendidikan.
“Dengan penguatan lembaga Widyalaya, kita berharap tercipta generasi muda Hindu yang tidak hanya pandai secara intelektual, tetapi juga berintegritas, toleran, dan mampu menjadi agen harmoni di tengah masyarakat majemuk Indonesia,” tutup Prof. Duija.
Dengan dukungan penuh dari Menteri Agama, program penguatan Widyalaya diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem pendidikan Hindu yang modern, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan karakter moderat, sejalan dengan semangat transformasi pendidikan keagamaan nasional yang terus digelorakan oleh Kementerian Agama.