Jakarta (Bimas Hindu) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menyelenggarakan kegiatan Penguatan Kompetensi Guru Widyalaya dan Guru Pendidikan Agama Hindu dalam Mengimplementasikan Ekoteologi melalui Kurikulum Berbasis Cinta untuk Mewujudkan Pembelajaran Berkarakter dan Berkelanjutan. Kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada 6–7 Juli 2026.
Program ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas guru agar mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Fokusnya tidak hanya pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga penguatan karakter, spiritualitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sebanyak 659 peserta mengikuti kegiatan pada hari pertama. Mereka terdiri atas 133 Guru Widyalaya dan 526 Guru Pendidikan Agama Hindu dari berbagai provinsi di Indonesia.
Antusiasme peserta meningkat pada hari kedua. Jumlah peserta mencapai 727 orang, terdiri atas 139 Guru Widyalaya dan 588 Guru Pendidikan Agama Hindu.
Direktur Pendidikan Hindu, Prof. I Ketut Sudarsana, mengatakan kegiatan ini dirancang agar guru mampu mengimplementasikan Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta secara nyata dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, penguatan kompetensi tersebut tidak hanya memberikan pemahaman konseptual, tetapi juga menghasilkan berbagai produk nyata berupa e-modul, perangkat pembelajaran, artikel pengabdian kepada masyarakat, serta sertifikat 32 Jam Pelajaran (JP).
"Guru diharapkan mampu menjadi penggerak pembelajaran agama Hindu yang tidak hanya menanamkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga karakter, spiritualitas, dan kepedulian terhadap lingkungan," ujar Prof. Sudarsana.
Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, menegaskan bahwa kompetensi guru harus terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Menurutnya, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.
Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dibangun di atas nilai-nilai Panca Cinta, yakni cinta kepada Tuhan, ilmu pengetahuan, lingkungan, diri sendiri dan sesama, serta tanah air.
"Nilai-nilai tersebut harus diinternalisasikan dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan," kata Prof. Duija.
Lebih lanjut, Prof. Duija menjelaskan bahwa konsep Ekoteologi telah melekat dalam praktik keagamaan Hindu melalui unsur Puspam, Patram, Palam, dan Toyam yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan yadnya.
"Menjaga lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan implementasi nyata ajaran agama Hindu. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut perlu diwariskan kepada generasi muda melalui proses pendidikan yang berkelanjutan," tegasnya.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh penguatan dari akademisi dan praktisi pendidikan Hindu mengenai paradigma Pendidikan Agama Hindu di era krisis ekologis, implementasi Ekoteologi, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta, serta strategi pembelajaran yang mengintegrasikan karakter spiritual, sosial, kognitif, dan ekologis.
Kegiatan juga diisi dengan workshop penyusunan modul ajar yang dibagi ke dalam 13 kelompok breakout room. Para peserta menyusun perangkat pembelajaran, berbagi praktik baik (best practice), dan mempresentasikan hasil kerja sebagai bentuk kolaborasi antarguru.
Melalui kegiatan ini, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu berharap lahir semakin banyak guru yang mampu menghadirkan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu yang inovatif, humanis, dan berkelanjutan.
Penguatan kompetensi ini diharapkan menjadi fondasi dalam mencetak peserta didik yang unggul secara akademik, berkarakter, memiliki kesadaran ekologis, serta mampu mewujudkan kehidupan yang harmonis sesuai nilai-nilai ajaran Hindu.