Widyalaya Berkarya, Pertiwi Berjaya: Menteri Agama Buka Malam Puncak Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya di Denpasar

Widyalaya Berkarya, Pertiwi Berjaya: Menteri Agama Buka Malam Puncak Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya di Denpasar

Denpasar (Bimas Hindu) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menggelar Malam Puncak Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya di Auditorium Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, Kamis (12/2/2026). Kegiatan bertema “Widyalaya Berkarya, Pertiwi Berjaya” ini secara resmi dibuka oleh Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar.

Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus ruang aktualisasi kreativitas bagi institusi pendidikan Widyalaya di seluruh Indonesia. Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya yang diperingati setiap 13 Februari merujuk pada terbitnya PMA Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Widyalaya sebagai tonggak transformasi pendidikan Hindu di Indonesia.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Widyalaya memiliki makna yang mendalam sebagai lembaga pendidikan keagamaan Hindu. Ia mengibaratkan Widyalaya serupa dengan pesantren, bukan sekadar tempat memperoleh pelajaran dari guru, melainkan tempat menimba ilmu yang menuntun pada pencerahan batin dan kedekatan dengan Tuhan.

“Widyalaya bukan hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang jujur, objektif, dan bijaksana. Guru adalah obor pencerahan yang menerangi kegelapan batin dan pikiran anak didik,” ujar Menteri Agama.

Menag juga menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal dalam dunia pendidikan, termasuk konsep Tri Hita Karana yang selaras dengan program prioritas Kementerian Agama, yaitu Ekoteologi. Menurutnya, hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam harus terus dihidupkan dalam kurikulum pendidikan.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan akibat eksploitasi berlebihan, seperti pembakaran hutan dan alih fungsi lahan secara masif, berdampak langsung pada ketidakseimbangan alam. Oleh karena itu, pendekatan agama dinilai sebagai instrumen moral yang efektif dalam membangun kesadaran ekologis.

“Bahasa agama mampu menyadarkan manusia untuk tidak merusak alam. Alam bukan sekadar objek ekonomi, tetapi bagian sakral dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga,” tegasnya.

Kakanwil Kemenag Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pembinaan ASN yang melibatkan seluruh satuan kerja Kemenag se-Bali. Dari total 4.011 ASN, sekitar 800 orang hadir secara langsung karena keterbatasan kapasitas tempat.

Ia melaporkan bahwa Kanwil Kemenag Bali meraih sejumlah penghargaan nasional, antara lain predikat Pelayanan Prima, Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), serta satuan kerja dengan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), dan direkomendasikan sebagai percontohan pelayanan publik tingkat nasional.

Di bidang pendidikan Hindu, terdapat 71 Widyalaya swasta di Bali. Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Gianyar telah menghibahkan lahan untuk pendirian Widyalaya Negeri. Proposal serta desain kurikulum berbasis boarding school telah disiapkan dan menunggu dukungan lebih lanjut dari Kementerian Agama.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, menyampaikan bahwa Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya menjadi momentum konsolidasi nasional pendidikan Hindu.

“PMA Nomor 2 Tahun 2024 adalah tonggak sejarah. Widyalaya kini memiliki dasar hukum yang kuat untuk tumbuh dan berkembang sebagai lembaga pendidikan formal keagamaan Hindu,” ujarnya.

Dirjen Bimas Hindu menjelaskan, dalam dua tahun terakhir telah berdiri 146 Widyalaya di seluruh Indonesia, mulai dari tingkat Pratama hingga Utama. Hal ini menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif umat Hindu dalam membangun pendidikan berbasis nilai Dharma.

“Kita ingin Widyalaya menjadi rumah ilmu sekaligus rumah pembentukan karakter. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus melahirkan insan yang Siddha (cerdas), Suddha (jujur), Saddhu (bijaksana), dan Siddhi (paripurna secara batin),” jelas Prof. Duija.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu juga meluncurkan Panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang mengintegrasikan nilai Dharma, Bhakti, dan Tri Hita Karana dengan prinsip Panca Cinta: cinta kepada Tuhan, ilmu, lingkungan, sesama, dan tanah air.

“Kurikulum Berbasis Cinta adalah ruh pendidikan Widyalaya. Inti semua agama adalah cinta. Pendidikan yang dibangun di atas cinta akan melahirkan generasi moderat, inklusif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Selain peluncuran kurikulum, diresmikan pula Lambang, Mars, dan Hymne Widyalaya sebagai identitas resmi. Lambang teratai melambangkan transformasi karakter dan kemurnian jiwa, sementara Mars dan Hymne menjadi simbol semangat dan pengabdian pada Dharma.

Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija menyampaikan apresiasi atas dukungan Menteri Agama sekaligus memohon arahan untuk penguatan dan pengembangan Widyalaya ke depan sebagai institusi pendidikan yang berperan strategis dalam membangun peradaban bangsa.


Berita Pusat LAINNYA