Bangun Keluarga Harmonis, Calon Pengantin Hindu Dikenalkan Tri Hita Karana dan Tri Kaya Parisudha

Keluarga Sukinah Dimulai dari Kesiapan

Pasangkayu (Bimas Hindu) - Menikah bukan sekadar menyatukan dua individu, tetapi menjadi awal perjalanan membangun keluarga yang harmonis, kokoh, dan berlandaskan Dharma. Pemahaman tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan yang diberikan kepada dua pasangan remaja di Desa Mertasari, Kecamatan Pedongga, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Rabu (9/9/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Tim Rumah Bina Keluarga Sukinah (RBKS) Provinsi Sulawesi Barat sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda Hindu sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Pembekalan diarahkan pada kesiapan mental, spiritual, emosional, sosial, serta kemampuan menghadapi dinamika kehidupan keluarga.

Kegiatan turut dihadiri Ketua PHDI Desa Mertasari sebagai bentuk dukungan terhadap pembinaan umat Hindu, khususnya dalam mempersiapkan generasi muda agar mampu membangun rumah tangga sesuai dengan nilai-nilai ajaran Hindu.

Sejumlah pemateri hadir memberikan pembekalan sesuai bidang dan kompetensinya, yakni Nyoman Suparwanta, S.Sos.H., Ni Wayan Yusniari, S.Pd.H., Nurbianti, S.Sos., dan Ni Made Ayu Reni, S.Pd.

Materi yang diberikan mencakup kesiapan menjadi pasangan suami istri, komunikasi dalam keluarga, tanggung jawab, pengelolaan rumah tangga, hingga penguatan nilai-nilai agama Hindu dalam kehidupan perkawinan.

Para peserta diajak memahami bahwa kehidupan rumah tangga membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta. Suami dan istri perlu membangun hubungan berdasarkan sikap saling memahami, menghargai, menyayangi, setia, serta bersedia berbagi tanggung jawab.

“Perkawinan adalah perjalanan bersama. Karena itu, calon pasangan harus memiliki kesiapan untuk saling memahami, menghargai, dan mendukung. Setiap persoalan dalam rumah tangga perlu dihadapi bersama dengan komunikasi yang baik dan sikap yang bijaksana,” pesan dalam pembinaan tersebut.

Dalam perspektif Hindu, keluarga memiliki posisi penting sebagai tempat pertama untuk menanamkan nilai agama, etika, karakter, dan kasih sayang. Karena itu, calon pasangan diperkenalkan dengan konsep Tri Hita Karana, yakni membangun keharmonisan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia, dan lingkungan.

Penguatan juga diberikan melalui ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. Prinsip tersebut menjadi landasan dalam membangun komunikasi yang sehat antara suami dan istri.

Komunikasi yang terbuka dan penuh kasih dinilai menjadi salah satu kunci menjaga keharmonisan keluarga. Perbedaan maupun persoalan yang muncul dalam rumah tangga perlu diselesaikan dengan kepala dingin, menghindari emosi, serta mengedepankan musyawarah dan kebijaksanaan.

“Cara berpikir, berbicara, dan bertindak akan sangat menentukan suasana dalam keluarga. Karena itu, Tri Kaya Parisudha penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar komunikasi antara suami dan istri tetap dilandasi kasih, saling menghormati, dan tidak mudah terbawa emosi,” jelas pemateri.

Selain aspek hubungan pasangan, bimbingan juga menekankan pentingnya membangun keluarga yang memiliki Sradha dan Bhakti. Kehidupan rumah tangga diharapkan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga memiliki tujuan spiritual.

Keluarga dipandang sebagai ruang pertama bagi tumbuhnya nilai Dharma dan pembentukan karakter anak. Karena itu, calon pasangan didorong untuk memiliki komitmen dalam membangun keluarga yang mampu menjadi lingkungan tumbuh yang sehat, penuh kasih, dan berlandaskan nilai agama.

Kehadiran Tim RBKS Provinsi Sulawesi Barat dalam pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga Hindu sejak tahap sebelum perkawinan. Pembekalan diberikan agar calon pasangan tidak hanya siap melaksanakan perkawinan, tetapi juga memahami tanggung jawab yang menyertainya.

“Keluarga Sukinah tidak dibangun hanya dengan cinta, tetapi dengan Dharma, komunikasi, kesetiaan, tanggung jawab, dan komitmen untuk tumbuh bersama,” tegas pemateri.

Melalui pembinaan tersebut, dua pasangan remaja di Desa Mertasari diharapkan memiliki bekal yang lebih matang dalam menjalani kehidupan perkawinan. Mereka diharapkan mampu menjadikan keluarga sebagai tempat tumbuhnya kasih sayang, keharmonisan, karakter, dan nilai-nilai Dharma.

Pada akhirnya, membangun Keluarga Sukinah bukanlah proses yang selesai ketika ijab atau upacara perkawinan dilaksanakan. Ia merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran, kesetiaan, komunikasi, dan komitmen kedua pasangan untuk terus tumbuh bersama dalam Dharma.

Kontributor : Gede Cameng Janardana,S.Pd.H


Berita Daerah LAINNYA