Mesuji (Bimas Hindu) - Keterbatasan sarana peribadatan tidak menyurutkan semangat umat Hindu yang bermukim di wilayah Register, Kabupaten Mesuji, Lampung, untuk menjaga kehidupan spiritual dan tradisi keagamaan. Hal itu terlihat dalam persembahyangan Pujewali Bude Cemeng Menail di Pura Penataran Dalem Ped, Dusun Labuhan Indah, Desa Labuhan Batin, Kecamatan Way Serdang, Rabu (9/9/2026).
Persembahyangan berlangsung khidmat sebagai wujud Sradha dan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya. Bagi umat Hindu perantauan, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga ruang untuk mempererat kebersamaan dan menjaga keberlangsungan tradisi di tengah berbagai keterbatasan.
Bude Cemeng Menail dimaknai sebagai momentum untuk meningkatkan kesucian diri, menumbuhkan rasa syukur, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Jero Mangku Guru Putu Las dalam kesempatan tersebut mengajak umat agar tetap teguh menjalankan Dharma, termasuk ketika berada jauh dari daerah asal dan menghadapi keterbatasan fasilitas peribadatan.
“Keterbatasan bukanlah alasan untuk mengurangi semangat dalam berbhakti. Justru melalui kebersamaan dan keyakinan yang kuat, umat dapat terus menjaga Sradha dan Bhakti dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Mangku Putu Las.
Menurutnya, keberlangsungan kehidupan keagamaan tidak hanya bergantung pada kelengkapan sarana, tetapi juga pada keteguhan umat dalam menjaga keyakinan dan melaksanakan ajaran Dharma. Kebersamaan menjadi kekuatan penting agar tradisi keagamaan tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Semangat tersebut juga terlihat dari pelaksanaan persembahyangan rutin setiap Bude Cemeng di Pura Penataran Dalem Ped. Meskipun kondisi pura masih sederhana, umat tetap hadir dan melaksanakan persembahyangan dengan penuh kesungguhan.
Pengurus Adat Labuhan Indah, Bayu Ariani, mengatakan kegiatan rutin tersebut memiliki arti penting bagi kehidupan umat Hindu di wilayah Register. Selain menjadi sarana persembahyangan, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan umat.
“Walaupun kondisi pura masih sederhana, umat tetap memiliki semangat dan kebersamaan yang kuat untuk hadir dan melaksanakan persembahyangan sebagai bentuk penguatan Sradha dan Bhakti,” ungkap Bayu Ariani.
Kehadiran umat dalam setiap pelaksanaan persembahyangan menjadi gambaran bahwa tradisi keagamaan dapat tetap tumbuh ketika dijaga bersama. Pura yang sederhana tidak mengurangi kekhusyukan umat dalam menjalankan kewajiban keagamaan.
Lebih dari sekadar ritual, Pujewali Bude Cemeng Menail menjadi pengingat bahwa kehidupan spiritual perlu dirawat secara konsisten. Bagi umat Hindu perantauan, menjaga persembahyangan berarti menjaga identitas, memperkuat keyakinan, sekaligus memastikan nilai-nilai Dharma tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, pembinaan dan penguatan kehidupan keagamaan diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Upaya tersebut penting untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Dharma sekaligus memperkuat kehidupan sosial-keagamaan umat Hindu di wilayah Register.
“Semoga kebersamaan ini terus terjaga. Dengan keyakinan, persaudaraan, dan semangat menjalankan Dharma, umat Hindu di wilayah Register dapat semakin kokoh dalam Sradha dan Bhakti serta tetap mampu menjaga tradisi keagamaan untuk generasi mendatang,” pesan dalam kegiatan tersebut.
Dari sebuah pura yang masih sederhana, semangat itu terus tumbuh. Umat datang, bersembahyang, dan menjaga tradisi. Sebuah gambaran bahwa kekuatan spiritual tidak selalu lahir dari kemewahan sarana, tetapi dari keyakinan dan kebersamaan yang terus dipelihara.
Kontributor : Ni Ketut Putriani,S.sos.H