Dari Tabuhan Kecil, Siswa SLBN 1 Klungkung Belajar Mengenal Geguntangan

Dari tabuhan kecil, tumbuh kecintaan pada budaya

Klungkung (Bimas Hindu) - Satu per satu suara tabuhan terdengar dari Wantilan Pura Mandara Giri, Kabupaten Klungkung, Rabu (9/9/2026). Tangan-tangan kecil siswa SLBN 1 Klungkung mencoba mengikuti irama Geguntangan. Sesekali mereka berhenti untuk memperhatikan contoh, kemudian kembali mencoba menabuh.

Tidak harus langsung sempurna. Bagi para siswa, kesempatan untuk memegang alat musik, menghasilkan bunyi, dan mengikuti irama bersama menjadi pengalaman baru sekaligus pintu untuk mengenal lebih dekat seni tradisional Bali.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendampingan Penyuluh Agama Hindu melalui Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu kepada siswa SLBN 1 Klungkung dalam pembinaan sekaligus pelestarian budaya. Geguntangan dipilih sebagai media untuk mengenalkan dasar-dasar gamelan Bali sekaligus membangun nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan kepercayaan diri.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, I Dewa Ngakan Hardiputra, mengatakan pengenalan seni tradisional kepada siswa tidak hanya bertujuan menjaga budaya lokal, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan karakter dan pelestarian budaya lokal di lingkungan pendidikan. Kami ingin siswa mendapat kesempatan untuk mengenal seni tradisional Bali secara langsung. Dari proses belajar ini, mereka juga bisa belajar tentang kebersamaan, kedisiplinan, dan menghargai budaya yang menjadi bagian dari kehidupan kita,” ujarnya.

Menurut Hardiputra, pengalaman langsung membuat proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Ketika siswa memegang alat musik, mencoba menghasilkan bunyi, dan belajar mengikuti irama bersama, mereka tidak sekadar memperoleh pengetahuan, tetapi mengalami sendiri proses belajar tersebut.

Geguntangan sendiri memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan seni dan keagamaan masyarakat Bali. Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, I Nyoman Tirtayasa, menjelaskan perangkat gamelan tersebut antara lain digunakan untuk mengiringi tembang, dialog, dan gerak tari dalam drama tradisional Arja, serta mengiringi gegitan dalam pelaksanaan upacara yadnya.

“Geguntangan merupakan bagian dari kesenian yang tumbuh dan digunakan dalam kehidupan masyarakat Bali. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk mengenalnya sejak dini, bukan hanya mengetahui bentuk alat musiknya, tetapi juga memahami fungsi dan nilai yang ada di dalamnya,” jelas Tirtayasa.

Ia mengatakan latihan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan setiap siswa. Tidak semua siswa harus mengikuti latihan dengan cara yang sama. Masing-masing diberikan ruang untuk mencoba, mengenali irama, dan mengambil bagian sesuai dengan kemampuan mereka.

“Yang kami harapkan bukan sekadar siswa bisa memainkan Geguntangan, tetapi mereka menikmati proses belajarnya. Ketika mereka merasa senang dan diberi kesempatan untuk ikut, dari sana rasa percaya diri dan ketertarikan terhadap seni bisa tumbuh,” tambahnya.

Bagi Komang Pasek, salah seorang siswa SLBN 1 Klungkung, kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia mengaku senang mendapat kesempatan belajar memainkan alat musik tradisional Bali dan berharap dapat kembali mengikuti latihan.

“Terima kasih sudah mengajarkan Geguntangan kepada kami. Saya senang bisa belajar. Semoga nanti bisa latihan lagi supaya saya bisa lebih bisa,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari panggung besar. Ia dapat tumbuh dari ruang belajar, dari kesempatan sederhana untuk mencoba, dan dari anak-anak yang perlahan mengenal bahwa seni dan tradisi merupakan bagian dari kehidupan mereka.

Lebih dari sekadar mengenalkan alat musik, pembelajaran Geguntangan membuka ruang bagi siswa untuk belajar mendengar, mengikuti irama, menunggu giliran, bekerja bersama, dan menghargai proses. Setiap siswa dapat berkembang dengan caranya masing-masing tanpa kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi.

Pendampingan ini sekaligus memperlihatkan bahwa seni tradisional dapat menjadi media pembelajaran yang ramah dan inklusif. Budaya tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu yang harus dijaga, tetapi juga sebagai sarana bagi anak-anak untuk belajar, berinteraksi, membangun kepercayaan diri, dan mengenal nilai-nilai kehidupan.

Melalui kegiatan tersebut, pelestarian seni Geguntangan diharapkan dapat terus berlangsung lintas generasi. Semangat menjaga budaya juga berjalan beriringan dengan penguatan kehidupan keagamaan dan pendidikan karakter.

Upaya ini sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama, khususnya dalam mendorong pendidikan yang unggul, ramah, dan terintegrasi serta menghadirkan layanan keagamaan yang berdampak dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara nyata.

Dari suara tabuhan yang masih sederhana, sebuah proses besar sedang dimulai: mengenalkan budaya kepada generasi muda sekaligus memastikan warisan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan anak-anak di masa depan.

Kontributor : Nengah Adi Widiastrawan


Berita Daerah LAINNYA