Begini Perayaan Tumpek Kandang Umat Hindu di Bantul, Yogyakarta

Perayaan Tumpek Kandang umat Hindu di Bantul

Bantul, DI Yogyakarta (Bimas Hindu) Perayaan Tumpek Kandang tidak hanya berlangsung di Bali. Di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, umat Hindu juga memperingati hari suci tersebut dengan cara yang sederhana namun sarat makna, yakni melalui persembahyangan dan penghormatan terhadap satwa di kandang sapi milik Nyoman Suaba, warga Pesantian Tirtha Arum, Sabtu (5/9/2026).

Tumpek Kandang atau Tumpek Uye diperingati pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Bagi umat Hindu di Bantul, momentum ini menjadi pengingat untuk membangun hubungan harmonis antara manusia dan seluruh makhluk hidup, khususnya hewan yang selama ini memberikan manfaat bagi kehidupan.

Nyoman Suaba mengatakan perayaan Tumpek Kandang di tempatnya tidak hanya ditujukan kepada sapi, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap berbagai jenis satwa.

“Ritual Tumpek Kandang dimaksudkan untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan binatang, khususnya sapi. Namun, Tumpek Kandang bukan hanya untuk sapi, tetapi juga menjadi momentum untuk menghormati dan menjaga hubungan baik dengan binatang lainnya,” ungkap Nyoman.

Pelaksanaan Tumpek Kandang di Bantul turut didampingi Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Bantul I Gede Suwardana. Dalam kesempatan tersebut, Gede menjelaskan bahwa sapi memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Hindu.

Mengutip Gau Upanishad, Gede menyampaikan ungkapan “Mata Rudranam, duhita pasunan” yang menggambarkan kedudukan sapi dalam ajaran Hindu. Gede juga menjelaskan Sri Krishna dikenal sebagai Govinda, sementara dalam Bhagavad Gita sapi disebut Surabhi, dan Dewa Siwa memiliki Nandi sebagai wahana.

Namun menurut Gede, perayaan Tumpek Kandang tidak cukup berhenti pada ritual dan simbol keagamaan. Penghormatan kepada satwa perlu diwujudkan melalui cara manusia memperlakukan hewan dalam kehidupan sehari-hari.

“Tumpek Kandang mengajarkan bahwa penghormatan terhadap satwa harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Memberikan makanan yang layak, menjaga kesehatan, merawat, dan tidak menyakiti hewan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjalankan Dharma,” tutur Gede Suwardana.

Perayaan di Bantul juga menunjukkan bagaimana tradisi Hindu tetap hidup dan dimaknai oleh umat di luar Bali. Meski dilaksanakan dalam lingkup yang sederhana, nilai yang dibawa tetap sama, yakni rasa syukur, penghormatan kepada kehidupan, serta kesadaran bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari hewan, tumbuhan, dan alam.

“Ritual menjadi pengingat, tetapi tindakan nyata adalah bentuk pengamalan Dharma. Ketika manusia mampu merawat dan menghormati makhluk hidup lainnya, sesungguhnya manusia sedang menjaga keseimbangan kehidupan,” imbuh Gede Suwardana.

Perayaan Tumpek Kandang di Bantul memperlihatkan bahwa hari suci Hindu dapat tetap dirayakan dan dihayati di berbagai daerah di Indonesia. Di Yogyakarta, nilai Tumpek Kandang hadir melalui praktik sederhana yang menekankan rasa syukur, kasih terhadap satwa, dan tanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan.

Kontributor : Heni Purwanti


Berita Daerah LAINNYA