Buleleng, Bali (Bimas Hindu) Belajar mejejaitan tidak cukup hanya mampu membuat sarana upakara. Generasi muda juga perlu memahami makna yang terkandung di dalamnya. Pendekatan tersebut diterapkan Kemenag Kabupaten Buleleng melalui pelatihan membuat karawista dan kalpika bagi anak-anak binaan Panti Asuhan Narayan Seva Dharma, Selasa (8/9/2026).
Pelatihan dirancang untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap mejejaitan sekaligus memperkuat pemahaman terhadap sarana upakara Hindu. Sebelum praktik, peserta terlebih dahulu mendapat penjelasan mengenai makna dan fungsi karawista serta kalpika.
Pembinaan dilakukan Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng Nyoman Merta Uliani, Wahyanti, dan Putu Sariada. Pola belajar yang memadukan penjelasan dan praktik dipilih agar peserta tidak sekadar mengikuti tahapan pembuatan, tetapi memahami alasan dan nilai keagamaan di balik setiap sarana yang dibuat.
Penyuluh Agama Hindu Wahyanti menilai keseimbangan antara teori dan praktik penting untuk membuat pembelajaran agama lebih menarik bagi generasi muda.
“Perlu keseimbangan antara teori dan praktik supaya generasi muda menjadi lebih tertarik untuk belajar agama, serta menjadi generasi yang bisa dan paham maknanya,” jelas Wahyanti.
Dalam pembelajaran, peserta dikenalkan bahwa karawista dibuat dari ilalang dengan bunga merah dan putih yang dimaknai berkaitan dengan Tri Murti. Sementara kalpika dibuat dari daun kembang sepatu berwarna hijau dengan bunga merah dan putih berbentuk segitiga yang berpusat pada simbol Trilingga.
“Karawista merupakan salah satu sarana yang terbuat dari ilalang dengan bunga merah dan putih sebagai simbol Tri Murti. Karawista merupakan simbol penyatuan seluruh tubuh dengan Ida Sang Hyang Widhi, sedangkan kalpika terbuat dari daun kembang sepatu warna hijau dengan bunga merah putih yang berbentuk segitiga dan berpusat pada simbol Trilingga,” ujar Wahyanti.
Melalui metode tersebut, keterampilan mejejaitan ditempatkan bukan sekadar sebagai kemampuan membuat sarana upakara, tetapi sebagai jalan untuk mengenalkan tattwa dan makna keagamaan kepada generasi muda.
Pembinaan di Panti Asuhan Narayan Seva Dharma diharapkan dapat menumbuhkan minat anak-anak terhadap mejejaitan sekaligus membentuk generasi Hindu yang tidak hanya terampil, tetapi juga memahami nilai agama yang terkandung dalam tradisi yang mereka praktikkan.
Kontributor : Wahyanti