Menengok Semangat Belajar Agama Hindu di Timur Indonesia, Siswa Pasraman Mimika Dalami Sad Ripu

Siswa Pasraman Brahmacarya Mimika belajar Sad Ripu

Mimika, Papua Tengah (Bimas Hindu)  Di wilayah timur Indonesia, semangat generasi muda Hindu untuk belajar agama terus tumbuh. Delapan siswa kelas VII Pasraman Brahmacarya Mimika mengikuti pembelajaran Sad Ripu dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka, mulai dari mengendalikan emosi, membatasi penggunaan gawai, hingga menyikapi keberhasilan teman tanpa iri hati.

Pembelajaran berlangsung di Wantilan Pura Mandhira Mihika Mandaloka, Mimika, Minggu (6/9/2026), bersama pengajar pasraman Ni Ketut Puriani. Sad Ripu dikenalkan sebagai enam musuh yang berada dalam diri manusia, yakni Kama, Krodha, Lobha, Moha, Mada, dan Matsarya. Namun, pembelajaran tidak berhenti pada menghafalkan istilah, melainkan menghubungkannya dengan persoalan yang benar-benar dihadapi siswa.

Salah satu yang paling dekat dengan kehidupan anak saat ini adalah Moha, yang dalam pembelajaran dikaitkan dengan keterikatan berlebihan terhadap gawai. Siswa diajak memahami pentingnya mengatur waktu agar penggunaan handphone tidak mengganggu kewajiban belajar.

“Bermain handphone boleh, tetapi waktunya harus dikendalikan. Jangan sampai terlalu asyik dengan gawai kemudian melupakan kewajiban utama sebagai pelajar,” jelas Ni Ketut.

Persoalan lain yang dibahas adalah Krodha atau kemarahan. Pengajar menggunakan contoh ketika siswa memperoleh nilai kurang baik atau mendapat teguran guru. Dalam kondisi seperti itu, anak-anak diajak belajar menenangkan diri sebelum meluapkan emosi atau mengucapkan kata-kata kasar.

Ni Ketut menekankan bahwa memiliki emosi dan keinginan merupakan hal yang manusiawi. Hal terpenting adalah kemampuan untuk mengendalikan respons agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Memiliki perasaan atau keinginan adalah hal yang manusiawi. Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak belajar mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya,” ujar Ni Ketut.

Pembelajaran juga menyentuh Matsarya atau rasa iri. Ketika melihat teman memperoleh prestasi, siswa diajak untuk tidak membandingkan diri secara negatif, tetapi belajar ikut senang dan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk berkembang.

Jumlah peserta yang relatif kecil justru membuat pembelajaran berlangsung lebih intensif. Pengajar memiliki ruang untuk berdiskusi lebih dekat dengan setiap siswa dan menghubungkan ajaran Hindu dengan pengalaman yang mereka temui di sekolah, keluarga, maupun lingkungan pergaulan.

Melalui pembelajaran tersebut, Pasraman Brahmacarya menunjukkan bahwa pendidikan agama Hindu di Mimika tidak sekadar mengajarkan pengetahuan keagamaan. Sad Ripu dibawa masuk ke persoalan generasi muda masa kini sehingga siswa dapat memahami bahwa Dharma juga berbicara tentang bagaimana mengendalikan gawai, mengelola emosi, dan menyikapi kehidupan sosial secara sehat.

Dari Mimika, delapan siswa ini memperlihatkan bahwa ruang belajar agama Hindu tetap hidup dan bertumbuh di timur Indonesia. Dalam kelompok kecil di pasraman, ajaran yang diwariskan sejak lama terus diterjemahkan agar tetap relevan dengan kehidupan generasi sekarang.


Berita Daerah LAINNYA