Lampung Tengah, Lampung (Bimas Hindu) Perayaan Tumpek Uye dimanfaatkan sebagai ruang belajar ekoteologi bagi generasi muda Hindu di Lampung Tengah. Sebanyak 200 siswa Hindu SMPN 2 Seputih Raman diajak memahami kepedulian terhadap alam melalui Dharma Wacana, dialog, dan pelepasan 35 burung ke alam bebas, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan yang digagas kelompok kerja Penyuluh Agama Hindu Lampung Tengah tersebut tidak hanya diarahkan sebagai peringatan hari suci, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang hubungan manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup.
Kepala SMPN 2 Seputih Raman Nurbaeti mengapresiasi pembelajaran yang memadukan pengetahuan agama dengan aksi nyata di lingkungan sekolah.
“Pelepasan burung bukan hanya sekadar kegiatan simbolis, tetapi menjadi pembelajaran nyata bagi peserta didik tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, menyayangi makhluk hidup, dan menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis,” ujar Nurbaeti.
Sebelum pelepasan satwa, Penyuluh Agama Hindu I Ketut Ginada menyampaikan Dharma Wacana mengenai ekoteologi Hindu dan makna Tumpek Uye. Menurut Ketut, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep keagamaan.
“Ekoteologi Hindu mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam dan seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu, menjaga lingkungan, menyayangi satwa, dan memelihara keseimbangan alam merupakan bagian dari tanggung jawab dan Dharma kita sebagai umat Hindu,” ujar Ketut Ginada.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan melalui pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh siswa. Anak-anak diajak melihat bahwa mencintai lingkungan bukan hanya melalui nasihat atau teori di ruang belajar.
“Melalui kegiatan pelepasan burung ini, kita ingin memberikan pengalaman dan pembelajaran langsung kepada anak-anak bahwa mencintai alam bukan hanya melalui ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan. Ketika kita memberikan ruang bagi makhluk hidup untuk berkembang dan hidup bebas di habitatnya, pada saat yang sama kita sedang belajar menghargai kehidupan,” tambah Ketut.
Pembelajaran juga dilanjutkan dengan dialog interaktif. Para siswa mengajukan pertanyaan mengenai lingkungan, satwa, serta cara sederhana menerapkan nilai ekoteologi Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Puncak kegiatan ditandai dengan pelepasan 35 burung bersama penyuluh, guru, pihak sekolah, dan siswa. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan persembahyangan bersama.
Melalui peringatan Tumpek Uye tersebut, pembelajaran agama dibawa keluar dari sebatas teori. Generasi muda Hindu diajak memahami bahwa menyayangi satwa dan menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengamalan Dharma yang dapat dimulai melalui tindakan nyata.
Kontributor : Ketut Suwarta