Tumpek Uye Tak Berhenti pada Ritual, Umat Hindu Gunungkidul Lepas 20 Perkutut untuk Jaga Kelestarian Satwa

Gunungkidul, DI Yogyakarta (Bimas Hindu)  Perayaan Tumpek Uye di Pura Podo Wenang, Gunungkidul, tidak hanya diisi dengan persembahyangan. Umat Hindu juga melepas 20 burung perkutut ke alam bebas sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian satwa dan pengamalan nilai Dharma dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Persembahyangan Tumpek Uye dilaksanakan di Pura Podo Wenang, Kampung, Beji, Gunungkidul, Sabtu (5/9/2026), dipuput Jro Mangku Sutikno. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi mengenai hubungan manusia, hewan, dan alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan.

Penyuluh Agama Hindu Gunungkidul Made Neso dalam Dharma Wacana menekankan bahwa Tumpek Uye tidak cukup dipahami sebagai ritual keagamaan. Nilainya juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan seluruh makhluk hidup.

“Keselarasan sekala dan niskala mengajarkan bahwa aktivitas fisik manusia tidak boleh merusak tatanan kesucian alam. Fokus spiritual juga tidak cukup berhenti dalam doa dan persembahyangan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga dan merawat bumi,” tutur Made Neso.

Menurut Made Neso, menjaga kebersihan, melindungi hewan, merawat tumbuhan, serta memanfaatkan alam secara bijaksana merupakan bagian dari pengamalan Dharma. Kesadaran spiritual dalam ranah niskala dengan demikian perlu hadir dalam tindakan nyata di ranah sekala.

Pesan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelepasan 20 burung perkutut. Burung-burung itu dilepas agar dapat kembali hidup dan berkembang biak di alam bebas, sekaligus menjadi simbol kepedulian umat terhadap keberlangsungan satwa.

Pengempon Pura Podo Wenang Hartarto menjelaskan bahwa Tumpek Uye atau Tumpek Kandang diperingati setiap 210 hari pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci tersebut menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus kasih sayang terhadap hewan sebagai bagian dari ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Tumpek Uye mengingatkan kita untuk tidak hanya bersyukur atas kehidupan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menyayangi makhluk hidup serta lingkungan tempat kita menjalani kehidupan,” ujar Hartarto.

Umat juga diajak menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Pura Podo Wenang agar tetap menjadi tempat persembahyangan yang bersih, nyaman, dan suci.

Melalui persembahyangan, Dharma Wacana, dan pelepasan satwa, perayaan Tumpek Uye di Gunungkidul membawa pesan bahwa penghormatan terhadap kehidupan tidak berhenti dalam ritual, tetapi harus diterjemahkan menjadi kepedulian nyata terhadap hewan dan lingkungan.

Kontributor: Heni Purwanti


Berita Daerah LAINNYA