Karangasem, Bali (Bimas Hindu) Sebanyak 25 ibu penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, mendapat pembinaan tentang pentingnya membangun kerukunan mulai dari lingkungan keluarga, Senin (7/9/2026). Para ibu didorong menjadi teladan dalam menanamkan sikap saling menghormati, komunikasi yang baik, serta kebiasaan menghargai perbedaan kepada anak sejak dini.
PKH atau Program Keluarga Harapan merupakan program bantuan sosial bersyarat bagi keluarga miskin dan rentan. Dalam pembinaan kali ini, kelompok penerima PKH menjadi ruang strategis untuk membawa pesan kerukunan langsung ke lingkungan keluarga.
Pembinaan dilakukan Penyuluh Agama Hindu Kankemenag Karangasem bersama Penata Layanan Operasional (PLO) Kecamatan Selat. Peserta berasal dari empat banjar dinas, yakni Santi, Selat Kelod, Sukawana, dan Telengis.
Materi pembinaan menempatkan keluarga sebagai ruang pertama untuk belajar hidup rukun. Perbedaan pendapat dalam rumah tangga diarahkan untuk diselesaikan melalui komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, dan musyawarah sehingga tidak berkembang menjadi konflik.
Penyuluh Agama Hindu Mira Puspita mengatakan, kerukunan masyarakat dapat dibangun dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Dalam proses tersebut, orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh kepada anak.
“Kerukunan dan toleransi yang dimulai dari lingkup keluarga adalah fondasi utama dalam merawat keharmonisan sosial. Melalui pembinaan ini, kita berharap para ibu dapat menjadi teladan dalam menanamkan nilai kedamaian serta membiasakan anak-anak menghargai perbedaan sejak dini,” ujar Mira.
Keluarga juga menjadi tempat pertama bagi anak mengenal nilai agama, etika, kasih sayang, serta sikap saling menghormati. Karena itu, kebiasaan yang dibangun di rumah turut menentukan cara anak berinteraksi dengan orang lain ketika berada di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan tidak hanya berbicara tentang kerukunan antaranggota keluarga. Para ibu juga diajak membiasakan anak menghargai perbedaan agama, adat, dan budaya sehingga sikap toleran dapat tumbuh sejak dini dan terbawa ketika mereka hidup di tengah masyarakat yang beragam.
Pendekatan kepada kelompok penerima PKH tersebut menunjukkan bahwa penguatan kerukunan dapat dilakukan melalui ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pesan toleransi tidak berhenti pada forum besar, tetapi dibawa langsung kepada keluarga sebagai tempat nilai-nilai kedamaian pertama kali dikenalkan dan dipraktikkan.
Melalui pembinaan tersebut, Kankemenag Karangasem mendorong keluarga penerima PKH menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan harmonis. Ibu ditempatkan bukan sekadar sebagai peserta pembinaan, tetapi sebagai salah satu aktor penting dalam menanamkan sikap menghargai perbedaan kepada generasi berikutnya.
Kontributor : Finxi