Krama Istri Lombok Utara Diajak Bahas Kama Sutra, Ini yang Disampaikan Penyuluh Hindu

Krama Istri Lombok Utara bahas Kama Sutra

Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (Bimas Hindu) Membicarakan Kama Sutra dalam kehidupan rumah tangga masih kerap dianggap sebagai sesuatu yang sensitif. Namun bagi Penyuluh Agama Hindu, nilai yang terkandung di dalamnya juga dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan komunikasi, kedekatan, saling menghormati, serta keharmonisan antara suami dan istri. Perspektif tersebut disampaikan kepada 58 Krama Istri Banjar Dana Laksana di Kabupaten Lombok Utara.

Pembinaan dilaksanakan di Wantilan Pura Puseh Tirtha Sanggar Sangha Sesia, Kecamatan Gangga, Sabtu (5/9/2026), bersama Penyuluh Agama Hindu Ni Luh Eka Darmiyanti. Materi tidak hanya membahas kehidupan rumah tangga secara umum, tetapi juga mengajak peserta melihat pentingnya komunikasi, keterbukaan, kejujuran, saling menghargai, serta perhatian terhadap pasangan.

Ni Luh Eka menekankan bahwa keharmonisan keluarga tidak terbentuk dengan sendirinya. Hubungan suami dan istri perlu dirawat melalui keterlibatan kedua belah pihak, termasuk dalam memenuhi kebutuhan emosional dan menciptakan suasana rumah yang penuh kasih sayang.

“Rumah tangga yang harmonis perlu dibangun bersama. Komunikasi, keterbukaan, kejujuran, saling menghargai, dan kepedulian terhadap pasangan harus terus dijaga agar rumah menjadi tempat yang nyaman dan penuh kasih sayang,” ujar Ni Luh Eka.

Dalam pembinaan tersebut, Kama Sutra dibahas dalam konteks hubungan suami-istri. Kedekatan dan keromantisan menurut Ni Luh Eka perlu dibangun dengan kesadaran, kebijaksanaan, tanggung jawab, komunikasi, serta kesepakatan bersama.

“Dalam kehidupan suami-istri, kedekatan dan keromantisan juga perlu dirawat. Namun semuanya harus dilandasi kesadaran, tanggung jawab, komunikasi, saling menghormati, dan kesepakatan bersama agar kedua pasangan merasa nyaman,” jelas Ni Luh Eka.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa Kama Sutra tidak semata-mata dapat dipahami dari sisi hubungan fisik. Dalam konteks pembinaan keluarga, nilai yang dibicarakan justru berkaitan dengan bagaimana pasangan menjaga kualitas hubungan, memahami kebutuhan satu sama lain, dan membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Selain hubungan pasangan, peserta juga diingatkan mengenai pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental. Kondisi diri yang terjaga dinilai membantu setiap anggota keluarga menjalankan peran dan tanggung jawabnya dengan lebih baik.

“Menjaga kesehatan diri juga bagian dari menjaga keluarga. Ketika kondisi fisik dan mental kita baik, kita akan lebih mampu menjalankan peran, memberikan perhatian kepada pasangan, dan membangun suasana keluarga yang positif,” lanjut Ni Luh Eka.

Melalui pembinaan ini, Krama Istri Banjar Dana Laksana diajak melihat bahwa membangun keluarga Hindu yang harmonis tidak cukup hanya dengan menjalankan kewajiban keagamaan. Hubungan suami-istri juga perlu dirawat melalui komunikasi, kedekatan, keterbukaan, kesehatan, serta sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Pande Putu Dwi Telaksana


Berita Daerah LAINNYA