Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) — Menguatkan karakter dan etika bermedia digital generasi muda berbasis nilai keagamaan, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Tulang Bawang Barat mengedukasi belasan siswa SMAN 2 Tumijajar mengenai korelasi ajaran Vasudhaiva Kutumbakam di era digitalisasi, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan bina rohani ini difokuskan untuk membekali para siswa agar mampu membentengi diri dari dampak negatif ruang digital, seperti maraknya perundungan siber (cyberbullying), penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, hingga konflik sosial di media sosial.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sriwulan, menjelaskan bahwa ajaran teologi Vasudhaiva Kutumbakam yang bermakna "seluruh dunia adalah satu keluarga besar" memiliki korelasi mendasar dengan etika interaksi di dunia maya.
"Vasudhaiva Kutumbakam mengajarkan bahwa kita adalah bagian dari satu keluarga besar. Di era digital, nilai ini harus hadir dalam setiap interaksi kita. Jangan sampai teknologi yang seharusnya mendekatkan justru digunakan untuk menyakiti, merendahkan, atau memecah persaudaraan. Siswa Hindu harus mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas sekaligus berkarakter," ujar Eko Sriwulan.
Ia menambahkan, kecerdasan digital tidak hanya diukur dari kemahiran menggunakan perangkat teknologi, melainkan kemampuan mengendalikan diri dalam menyaring informasi serta menjaga kesantunan bertutur kata sebelum mengunggah pesan ke publik.
"Bijak bermedia digital bukan hanya soal mengetahui teknologi, tetapi juga tentang kemampuan menjaga ucapan, menghargai perbedaan, memeriksa kebenaran informasi, dan mempertimbangkan dampak sebelum membagikan sesuatu. Inilah bentuk nyata penerapan Vasudhaiva Kutumbakam dalam kehidupan generasi muda saat ini," tambahnya.
Pembinaan ini mendapat apresiasi positif dari para siswa. Salah seorang peserta, Niluh Satya, mengungkapkan bahwa bimbingan ini memberikan pemahaman baru bahwa etika keagamaan juga berlaku penuh saat berinteraksi di media sosial.
"Selama ini kami memahami Vasudhaiva Kutumbakam sebagai ajaran tentang persaudaraan dan kehidupan bersama di dunia nyata. Dari pembinaan ini kami memahami bahwa nilai tersebut juga harus diterapkan ketika menggunakan media sosial. Walaupun tidak bertemu secara langsung, kita tetap harus menghormati orang lain di dunia digital," ungkap Niluh.
Melalui pendampingan ini, Kemenag Tulang Bawang Barat berkomitmen untuk terus mendorong literasi digital berbasis ajaran Dharma agar generasi muda Hindu mampu memanfaatkan media sosial secara bijak, inklusif, serta menjadi penyebar pesan kedamaian.
Kontributor: Eko Sriwulan