Lampung (Bimas Hindu) — Membumikan pemahaman teologi Hindu agar relevan dengan kehidupan anak-anak sekaligus membentengi diri dari perilaku negatif, Pasraman Gita Saraswati menggelar pembelajaran "Awatara dan Misi Dharma" di Lampung, Sabtu (4/9/2026).
Kegiatan edukasi ini dipimpin oleh pengajar Pasraman Gita Saraswati, Dewi Sukmawati, dan diikuti oleh puluhan anak-anak binaan pasraman.
Dewi Sukmawati menjelaskan bahwa pembelajaran mengenai sepuluh manifestasi Tuhan (Dasawatara) seperti Matsya, Rama, Krishna, hingga Kalki sebagaimana termaktub dalam Bhagavad Gita IV.7–8 tidak boleh berhenti pada hafalan cerita kitab suci semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
"Anak-anak perlu memahami bahwa Awatara bukan hanya cerita tentang kehadiran Tuhan pada masa lalu. Di balik kisah tersebut terdapat pesan bahwa kebenaran harus selalu dijaga, Dharma harus ditegakkan, dan manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjadi bagian dari kebaikan," terang Dewi Sukmawati.
Ia menambahkan bahwa implementasi Dharma bagi anak usia sekolah ditransformasikan ke dalam perilaku sehari-hari, seperti berkata jujur, menghormati orang tua dan guru, tidak melakukan perundungan (bullying), menyayangi sesama, serta menjaga kebersihan lingkungan.
"Dharma dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Ketika anak berkata jujur, membantu teman, menjaga kebersihan, dan tidak menyakiti orang lain, sesungguhnya anak sedang belajar menjalankan Dharma dalam kehidupannya," tegasnya.
Melalui pendekatan pendidikan karakter yang interaktif dan kontekstual ini, Kemenag Provinsi Lampung mengapresiasi konsistensi Pasraman Gita Saraswati dalam mencetak generasi muda Hindu yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga memiliki rasa empati, integritas, dan moralitas yang tinggi.
Kontributor: Dewi Sukmowati