Kidung Jawa Sinom dan Kinanti Jadi Media Pelestarian Budaya Hindu di Karang Endah

Lestarikan Budaya, Hidupkan Dharma

Karang Endah (Bimas Hindu) - Upaya melestarikan budaya leluhur terus dilakukan umat Hindu di Kampung Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Bersama Penyuluh Agama Hindu, masyarakat setempat menggelar kegiatan belajar bersama kidung atau tembang Jawa Sinom dan Kinanti yang menjadi bagian dari tradisi keagamaan Hindu Jawa, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kehidupan keagamaan umat. Kidung Jawa yang dipelajari tidak hanya dipandang sebagai warisan seni dan budaya, tetapi juga digunakan sebagai pengiring dalam pelaksanaan ritual keagamaan umat Hindu Jawa.

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada turut memberikan penguatan kepada umat mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan budaya warisan leluhur sebagai bagian dari identitas dan kekayaan kehidupan keagamaan umat Hindu.

Menurut Ginada, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya generasi muda. Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan atau dikenang, tetapi perlu dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan secara berkelanjutan.

“Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang warisan leluhur, tetapi harus dilakukan dengan mempelajari, menggunakan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Kidung Jawa merupakan salah satu kekayaan budaya yang memiliki nilai spiritual dan menjadi bagian dari perjalanan kehidupan keagamaan umat Hindu Jawa,” ujar I Ketut Ginada.

Ia menjelaskan, kidung dan tembang Jawa memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar seni suara. Di dalamnya terdapat pesan spiritual, etika, dan moral yang dapat menjadi media untuk menyampaikan serta menguatkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Romo Mangku Suroso, tokoh umat Hindu setempat, menilai kegiatan belajar bersama tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi yang telah diwariskan para leluhur.

“Kami berharap kegiatan belajar kidung ini dapat terus dilaksanakan dan melibatkan generasi muda. Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal budaya leluhurnya dari cerita, tetapi tidak mampu mempraktikkannya. Melalui kegiatan ini, kami ingin menjaga agar tradisi kidung Jawa tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan keagamaan umat Hindu di Karang Endah,” ungkapnya.

Menurut Suroso, generasi muda menjadi salah satu kunci keberlanjutan tradisi. Karena itu, pembelajaran kidung tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan melantunkan tembang, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan terhadap budaya serta memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Dalam kegiatan tersebut, umat bersama-sama mempelajari kidung atau tembang Jawa Sinom dan Kinanti yang nantinya dapat digunakan sebagai pengiring dalam berbagai ritual keagamaan Hindu Jawa.

Suasana pembelajaran berlangsung penuh kebersamaan. Umat mengikuti proses belajar secara aktif, sekaligus memperkuat interaksi antargenerasi dalam menjaga tradisi keagamaan dan budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Hindu Jawa di Karang Endah.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan penguatan kehidupan keagamaan dapat berjalan beriringan. Melalui pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan, warisan leluhur diharapkan tidak hanya tetap hidup, tetapi juga dipahami maknanya dan mampu diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, kidung Jawa Sinom dan Kinanti tidak sekadar menjadi warisan seni tradisional, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat identitas budaya, menanamkan nilai spiritual, serta menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan umat Hindu di Kabupaten Lampung Tengah.

Kontributor :ketut suwarta


Berita Daerah LAINNYA