Boyolali (BIMAS HINDU) — Momen perayaan hari suci sering kali menjadi tolok ukur kedalaman spiritualitas umat. Namun, di Pura Bhuana Suci Saraswati, Ngaru-Aru, Banyudono, momentum Purnama Sasih Kasa pada Senin petang (29/06/2026) membawa dampak yang jauh lebih besar dari sekadar kekhidmatan ritual. Perayaan ini berhasil memantik semangat solidaritas, kepedulian sosial, dan aktualisasi ajaran Dharma dalam bentuk pelayanan langsung oleh umat.
Setelah khusyuk memanjatkan doa bersama, umat Hindu Desa Ngaru-Aru tidak langsung membubarkan diri. Energi spiritual yang terbangun dari persembahyangan tersebut langsung disalurkan menjadi aksi nyata melalui rapat persiapan penyambutan rombongan Tirta Yatra dari Bali.
Bagi umat setempat, kedatangan sekitar 80 orang yang melaksanakan Tirta Yatra pada Jumat (03/07/2026) bukanlah sekadar kunjungan tamu biasa, melainkan sebuah ruang untuk mempraktikkan Karma Marga jalan pengabdian yang tulus. Persiapan ini menjadi kawah candradimuka yang menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif, rasa memiliki (sense of belonging) terhadap pura, dan mempererat ikatan persaudaraan antarwarga desa.
Ketua Pengurus Pura Bhuana Suci Saraswati Ngaru-Aru, Heru, menegaskan bahwa kepanitiaan penyambutan ini memberikan ruang bagi umat untuk melatih kepekaan sosial dan keramahtamahan.
"Dalam hal ini yang menjadi perhatian kita di antaranya adalah kesiapan fasilitas MCK, penyediaan sarapan pagi bagi rombongan, serta teknis pelaksanaan persembahyangan bersama. Semua ini kami persiapkan sebagai bentuk penyambutan yang hangat dan penuh kekeluargaan."
Dampak dari sinergi ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Melalui pembagian tugas—mulai dari membersihkan area pura hingga menyiapkan logistik—umat diajak untuk bergotong royong dan menyingkirkan ego sektoral. Kehadiran Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali, Rta Wahyu Sri Pamungkas, di tengah-tengah warga juga memberikan rasa aman dan arahan, memastikan bahwa setiap lelah umat bernilai ibadah.
Secara tidak langsung, persiapan menyambut saudara se-Dharma dari Pulau Dewata ini telah menempa umat Hindu Ngaru-Aru menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berdedikasi tinggi. Mereka membuktikan bahwa ajaran Vasudhaiva Kutumbakam (kita semua adalah satu keluarga) bukan sekadar filosofi di atas mimbar, melainkan tindakan nyata yang hidup dan menghidupi keseharian mereka.
Kegiatan ini menjadi bukti konkret bahwa pura yang aktif tidak hanya melahirkan umat yang taat beribadah, tetapi juga membentuk masyarakat yang memiliki empati, dedikasi, dan kesiapan sosial yang tinggi dalam melayani sesama.