Yogyakarta (Bimas Hindu) - Pembimbing Masyarakat Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Hindu DIY menggelar kegiatan Ecocandi di Candi Gunung Wukir, Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (5/8/2026).
Selain menjadi sarana mengenalkan nilai sejarah dan spiritual peradaban Hindu di Nusantara, kegiatan ini dirangkaikan dengan momen pelepasan purna tugas salah satu Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Kulon Progo, Jro Mangku Wusono.
Kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama di pelataran Candi Gunung Wukir yang dipuput oleh Jro Gde Purwanto, Jro Mangku Wusono, dan Jro Mangku Widiantoro. Suasana khidmat di kompleks candi yang berdiri di atas perbukitan Dataran Kedu tersebut semakin memperkuat makna spiritual kegiatan yang mengintegrasikan pelestarian warisan budaya, penguatan nilai keagamaan, dan penghormatan atas dedikasi pengabdian penyuluh.
Untuk mencapai lokasi candi, para peserta harus menapaki jalan setapak sepanjang 300 meter yang membelah rimbunnya rumpun bambu. Medan yang menanjak memberikan pengalaman spiritual tersendiri yang mengajarkan nilai ketekunan, ketahanan mental, serta penghormatan terhadap alam sekitar.
Candi Gunung Wukir sendiri merupakan candi Hindu tertua di Pulau Jawa yang dibangun pada tahun 732 Masehi (654 Saka) pada masa pemerintahan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno. Tempat ditemukannya Prasasti Canggal ini memiliki kompleks yang terdiri atas satu candi utama dan tiga candi perwara yang dahulunya digunakan sebagai pusat pemujaan kepada Dewa Siwa serta ungkapan syukur atas kesuburan alam.
Dalam arahannya, Pembimas Hindu DIY, Didik Widya Putra, menegaskan bahwa gerakan Ecocandi merupakan langkah strategis untuk menghidupkan kembali fungsi spiritual candi sebagai pusat peradaban Hindu.
"Ecocandi perlu terus dikembangkan dan disosialisasikan kepada umat. Candi bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga ruang suci yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat persembahyangan, pendidikan keagamaan, dan penguatan identitas budaya Hindu di Nusantara," ujar Didik Widya Putra.
Pada kesempatan tersebut, Didik secara khusus menyampaikan apresiasi dan pesan mendalam atas pengabdian Jro Mangku Wusono selama menjalan tugas sebagai penyuluh.
"Purna tugas bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan awal dari pengabdian yang sejati. Pengabdian kepada umat tidak dibatasi oleh jabatan ataupun masa kerja. Teruslah menebarkan dharma, menjadi pelita kebajikan, dan menguatkan kehidupan beragama di tengah masyarakat," pesannya.
Sementara itu, Jro Mangku Wusono menyampaikan rasa syukur dan menegaskan komitmennya untuk terus melayani masyarakat Hindu meski telah resmi memasuki masa purna tugas.
"Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kebersamaan selama ini. Walaupun telah purna tugas, saya akan tetap mengabdikan diri kepada umat melalui pelayanan keagamaan dan sebagai pemangku, sesuai dharma yang saya yakini," ungkap Jro Mangku Wusono.
Melalui program Ecocandi ini, Bimas Hindu DIY berkomitmen untuk terus membumikan nilai-nilai keagamaan berbasis pelestarian cagar budaya dan lingkungan. Di balik rimbunnya rumpun bambu Gunung Wukir, tersirat pesan harmonis bahwa sejarah, pelestarian alam, dan pengabdian dharma merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam kehidupan beragama.
Kontributor/Penulis : Heni Purwanti