Mulat Sarira, Langkah Awal Membangun Pribadi yang Lebih Baik

Sebelum menilai orang lain, mari belajar melihat diri sendiri

Mulat Sarira, Langkah Awal Membangun Pribadi yang Lebih Baik

Kupang (Bimas Hindu) – Kebiasaan melihat ke dalam diri menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih bijaksana. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Provinsi Nusa Tenggara Timur, I Gusti Ayu Sukarmiasih, dalam Renungan Agama Hindu Pro 2 Pagi RRI Kupang, Selasa (18/8/2026).

Mengangkat tema “Pentingnya Mulat Sarira dalam Kehidupan Sehari-hari”, ia mengajak umat Hindu membiasakan diri melakukan introspeksi sebelum memberikan penilaian terhadap orang lain. Mulat Sarira tidak sekadar melihat kekurangan, tetapi menjadi proses untuk mengevaluasi pikiran, perkataan, dan perbuatan agar kehidupan dapat dijalani dengan lebih baik.

“Mulat Sarira mengajarkan kita untuk menyadari pikiran, perkataan, dan perbuatan yang telah kita lakukan, kemudian memperbaiki diri apabila terdapat kekeliruan,” ujar I Gusti Ayu Sukarmiasih.

Menurutnya, introspeksi membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri. Seseorang perlu berani mengakui kekeliruan tanpa menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk merendahkan diri. Sebaliknya, kesadaran tersebut dapat menjadi pijakan untuk melakukan perubahan dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap introspektif dapat dimulai melalui pertanyaan sederhana. Setiap orang dapat mengevaluasi apakah perkataan yang disampaikan sudah tepat, apakah tindakan yang dilakukan telah sesuai dengan Dharma, serta apakah kehadirannya memberikan manfaat bagi orang lain.

Mulat Sarira juga berkaitan erat dengan ajaran Tri Kaya Parisudha yang mengajarkan pentingnya menyucikan tiga perilaku manusia, yakni Manacika melalui pikiran yang baik, Wacika melalui perkataan yang baik, dan Kayika melalui perbuatan yang baik. Ketiganya menjadi ruang bagi seseorang untuk terus melakukan evaluasi terhadap dirinya.

I Gusti Ayu Sukarmiasih mengatakan kebiasaan melakukan evaluasi diri dapat dilakukan secara sederhana pada penghujung aktivitas sehari-hari. Kesalahan yang ditemukan tidak perlu ditutupi, tetapi dijadikan pelajaran untuk menentukan langkah yang lebih baik pada hari berikutnya.

“Jika hari itu kita melakukan kesalahan, kita belajar mengakuinya, memohon pengampunan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan berusaha tidak mengulanginya. Dengan demikian, setiap hari menjadi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, seseorang yang terbiasa melakukan introspeksi akan lebih berhati-hati dalam menyikapi kesalahan orang lain. Kesadaran untuk terlebih dahulu melihat kekurangan diri dapat membantu seseorang menghadapi persoalan dengan kepala dingin, mengurangi sikap menyalahkan, serta membuka ruang untuk menyelesaikan masalah secara bijaksana.

Sikap tersebut, lanjutnya, memiliki manfaat dalam berbagai lingkungan kehidupan, mulai dari keluarga, tempat kerja, hingga masyarakat. Ketika seseorang mampu mengendalikan pikiran, menjaga ucapan, dan mempertimbangkan setiap tindakan, hubungan dengan orang lain akan lebih mudah dibangun atas dasar saling menghargai.

“Sebelum menilai orang lain, mari kita melihat diri sendiri. Sebelum berbicara, mari kita berpikir. Sebelum bertindak, mari kita mempertimbangkan apakah tindakan tersebut membawa kebaikan,” pesannya.

Renungan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari orang lain. Dengan membiasakan Mulat Sarira, setiap individu memiliki kesempatan untuk mengenali kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan menumbuhkan perilaku yang semakin selaras dengan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor : I Made Juni Saputra


Berita Daerah LAINNYA