Ngayah di Pura Bukan Sekadar Bersih-Bersih, tetapi Menanam Benih Dharma Sejak Dini

Siswa Pasraman Widya Saraswati bersama Penyuluh Agama Hindu dan guru pasraman melaksanakan kegiatan ngayah membersihkan lingkungan Pura Agung Giri Segara, Labuan Bajo

Labuan Bajo (Bimas Hindu) — Menyapu halaman pura mungkin tampak sebagai kegiatan sederhana. Namun, bagi puluhan siswa Pasraman Widya Saraswati di Labuan Bajo, Minggu (19/7/2026), kegiatan tersebut menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Melalui tradisi ngayah, mereka tidak hanya diajak menjaga kesucian Pura Agung Giri Segara, tetapi juga menanamkan nilai-nilai dharma yang akan membimbing kehidupan mereka di masa depan.

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat, I Made Sujati, S.Ag., bersama guru pasraman Ni Made Suliati, S.Ag., mendampingi para siswa jenjang SD dan SMP melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan pura. Usai kegiatan, para siswa mengikuti pembelajaran langsung mengenai makna filosofis berbagai sarana persembahyangan dalam tradisi Hindu.

I Made Sujati menjelaskan bahwa setiap unsur dalam persembahyangan memiliki makna penyucian yang saling melengkapi. Canang, bunga, biji-bijian, hingga tirta bukan sekadar perlengkapan upacara, melainkan simbol perjalanan manusia untuk menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Menurutnya, bunga dengan beragam warna melambangkan persembahan ketulusan, sementara biji-bijian yang dikenakan di dahi dan tenggorokan menjadi pengingat agar manusia senantiasa menjaga kesucian pikiran dan ucapan. Seluruh proses tersebut kemudian disempurnakan melalui tirta sebagai simbol penyucian diri sehingga nilai-nilai baik yang ditanamkan dapat bertumbuh menjadi perilaku luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran kemudian diperkuat dengan penghayatan ajaran Sarasamuscaya Sloka 41, yang mengajarkan pentingnya memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang ingin diperlakukan.

"Kalau adek mengeluarkan ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan orang lain, pantulkan dulu ke diri kita. Kita coba dulu dikatakan seperti itu, mau senang tidak kita. Kalau kita merasa tidak baik berkata kasar kepada orang lain, berarti kita tidak perlu mengatakan sesuatu yang kasar kepada orang lain," pesan I Made Sujati.

Melalui pendekatan yang sederhana namun sarat makna, para siswa diajak memahami bahwa dharma bukan hanya dipelajari melalui kitab suci, tetapi juga dipraktikkan dalam tindakan nyata, mulai dari menjaga kebersihan tempat suci, menghormati sesama, hingga mengendalikan ucapan dan perilaku.

Kegiatan ngayah yang dipadukan dengan pembelajaran keagamaan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter generasi muda Hindu di Kabupaten Manggarai Barat. Dengan mengenalkan filosofi persembahyangan dan nilai-nilai dharma sejak dini, diharapkan tumbuh generasi yang tidak hanya memahami ajaran Hindu secara konseptual, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat.


Berita Daerah LAINNYA