Mesuji (Bimas Hindu – Penyuluh Agama Hindu bersama Guru Pasraman Wayan Aseh Sudiarta memberikan pembinaan tentang konsep Awatara kepada anak-anak usia sekolah di Pasraman Maruti Jnana, Desa Labuhan Indah, Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk mengenal nilai-nilai dasar ajaran Hindu melalui pendekatan yang edukatif dan kreatif.
Pembinaan memadukan penyampaian materi dengan aktivitas partisipatif agar peserta lebih mudah memahami konsep Awatara sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang hadir untuk menegakkan dharma dan melindungi kehidupan dari adharma. Pendekatan tersebut dilakukan melalui diskusi, tanya jawab, serta kegiatan menggambar dan mewarnai tokoh-tokoh Awatara sesuai tingkat perkembangan peserta didik.
Penyuluh Agama Hindu Ni Ketut Putriani, S.Sos.H., mengatakan bahwa metode pembelajaran yang sesuai dengan usia anak akan membantu mereka memahami ajaran agama secara lebih utuh sekaligus menumbuhkan minat belajar sejak dini.
"Anak-anak lebih mudah memahami ajaran agama ketika materi disampaikan melalui kegiatan yang menyenangkan. Karena itu, pembelajaran tentang Awatara dipadukan dengan aktivitas kreatif agar mereka tidak hanya mengenal tokoh-tokohnya, tetapi juga memahami nilai-nilai dharma yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Ni Ketut Putriani.
Selain mengenalkan konsep Awatara, pembinaan juga mendorong peserta untuk berani bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pemahamannya mengenai materi yang diterima. Interaksi tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang menempatkan anak sebagai subjek aktif dalam mengenal ajaran agama Hindu.
Kegiatan berlangsung dengan partisipasi aktif seluruh peserta. Melalui media gambar dan pewarnaan, anak-anak mengekspresikan pemahaman mereka terhadap tokoh-tokoh Awatara sekaligus memperkuat daya ingat terhadap materi yang telah dipelajari.
Pembinaan di Pasraman Maruti Jnana menjadi salah satu bentuk penguatan pendidikan keagamaan berbasis karakter yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Kolaborasi antara penyuluh agama dan guru pasraman tidak hanya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar peserta melalui metode yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.