Pembinaan Puja Tri Sandhya Bekali Generasi Muda Hindu Memahami Makna Persembahyangan

Memahami Puja Tri Sandhya bukan sekadar melafalkan doa, tetapi menghayati maknanya sebagai wujud sradha dan bhakti dalam kehidupan sehari-hari.

Labuan Bajo (Bimas Hindu) - Penyuluh Agama Hindu Kantor Kemenag Kabupaten Manggarai Barat, I Made Sujati membekali siswa-siswi Pasraman Widya Saraswati jenjang SD dan SMP dengan pemahaman mengenai makna Puja Tri Sandhya di Pura Agung Giri Segara, Labuan Bajo, Minggu (2/8/2026). Pembinaan tersebut menjadi bagian dari penguatan pendidikan keagamaan untuk menanamkan pemahaman spiritual sejak usia dini.

Pendekatan pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Siswa-siswi Pasraman diajak menjaga kebersihan lingkungan pura sebelum mengikuti persembahyangan bersama dan pembinaan mengenai makna Puja Tri Sandhya.

Pembinaan difokuskan pada penguatan pemahaman peserta mengenai esensi Puja Tri Sandhya sebagai doa harian umat Hindu. Selain menjelaskan tata cara persembahyangan yang benar, penyuluh juga mengajak peserta memahami pentingnya kesiapan lahir dan batin, termasuk melalui pengaturan napas (pranayama), agar persembahyangan dapat dilaksanakan dengan khusyuk dan penuh kesadaran.

I Made Sujati menjelaskan bahwa Puja Tri Sandhya merupakan doa harian yang memiliki makna mendalam sebagai sarana membangun hubungan spiritual dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus membentuk disiplin, pengendalian diri, dan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Dharma.

"Puja Tri Sandhya bukan sekadar rangkaian mantram yang dihafalkan, tetapi media untuk membangun kesadaran spiritual. Karena itu, persembahyangan hendaknya dilakukan dengan pikiran yang tenang, hati yang tulus, dan penuh penghayatan," ujar I Made Sujati.

Ia menambahkan, pembiasaan memahami makna doa sejak dini menjadi bekal penting bagi generasi muda Hindu agar mampu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

"Anak-anak perlu memahami mengapa mereka bersembahyang, bukan hanya bagaimana cara melakukannya. Ketika makna doa dipahami dengan baik, nilai-nilai sradha, bhakti, dan susila akan tumbuh menjadi bagian dari karakter mereka," katanya.

Selama pembinaan berlangsung, peserta mengikuti setiap sesi dengan antusias. Selain menyimak materi, mereka mempraktikkan tata cara persembahyangan yang benar serta berdiskusi mengenai pengalaman bersembahyang dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan yang memadukan pembelajaran, praktik ibadah, serta penguatan nilai-nilai spiritual tersebut menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan untuk membentuk generasi muda Hindu yang memahami ajaran agama secara utuh sekaligus mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Berita Daerah LAINNYA