Penyuluh Karanganyar Perkuat Peran Ibu pada WHDI melalui Tri Kaya Parisudha

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Karanganyar memberikan pembinaan kepada anggota WHDI tentang penguatan peran ibu dalam keluarga melalui ajaran Tri Kaya Parisudha di Pura Kalisodo.

Karanganyar (Bimas Hindu) Peran seorang ibu tidak hanya terbatas pada pengasuhan, tetapi menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter, spiritualitas, dan keharmonisan keluarga. Karena itu, implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha menjadi bekal penting bagi setiap ibu untuk menciptakan lingkungan keluarga yang sehat secara lahir maupun batin. Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan rutin Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) yang digelar di Pura Kalisodo, lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Kamis (6/8).

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Karanganyar, Lilik Fajar Dwi Riyanto, mengatakan bahwa ibu merupakan sekolah pertama bagi anak sekaligus memiliki peran sentral dalam membangun kehidupan spiritual keluarga. Menurutnya, kualitas sebuah keluarga sangat ditentukan oleh keteladanan seorang ibu dalam menerapkan nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.

"Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ketika ibu mampu menjaga kesucian pikiran, ucapan, dan perbuatannya melalui Tri Kaya Parisudha, anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari keteladanan. Keluarga yang dibangun di atas nilai-nilai dharma akan melahirkan generasi yang berkarakter dan menjadi fondasi terciptanya masyarakat yang harmonis," ujar Fajar.

Fajar menjelaskan, implementasi Manacika Parisudha mengajarkan setiap ibu untuk menjaga kesucian pikiran dengan menghindari prasangka buruk terhadap pasangan maupun anak serta mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi persoalan rumah tangga. Menurutnya, pikiran yang jernih akan melahirkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan sehingga suasana keluarga tetap kondusif.

Selanjutnya, Wacika Parisudha mengajarkan pentingnya menjaga kesucian ucapan. Mengacu pada ajaran Sarasamuscaya Sloka 120, ucapan yang baik mampu menghadirkan kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, serta mempererat persaudaraan. Sebaliknya, ucapan yang tidak terkendali dapat melukai perasaan dan memicu konflik di dalam keluarga. Karena itu, setiap ibu diharapkan membangun komunikasi yang santun, penuh kasih, dan saling menghargai dengan pasangan maupun anak-anaknya.

Sementara itu, Kayika Parisudha diwujudkan melalui tindakan nyata yang mencerminkan kasih sayang, menghindari perilaku menyakiti orang lain, bergunjing, iri hati, maupun dengki. Keteladanan melalui tindakan dinilai menjadi cara paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai dharma kepada anak-anak sejak usia dini.

Menurut Fajar, apabila ketiga aspek Tri Kaya Parisudha dijalankan secara selaras, keluarga akan menjadi tempat tumbuhnya karakter yang luhur, sradha dan bhakti yang kuat, serta hubungan yang harmonis antaranggota keluarga. Keharmonisan yang dimulai dari rumah pada akhirnya akan berkembang menjadi keharmonisan sosial menuju terwujudnya Jagadhita, yaitu kehidupan yang sejahtera dan damai bagi seluruh makhluk.

Pertemuan rutin WHDI tersebut diawali dengan kerja bakti membersihkan lingkungan Pura Kalisodo sebagai wujud menjaga kesucian tempat ibadah sekaligus mengimplementasikan nilai Tri Hita Karana. Para peserta juga menanam berbagai tanaman bunga sebagai bentuk dukungan terhadap Program Ekoteologi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, kemudian melaksanakan persembahyangan bersama sebelum mengikuti sesi dharma tula dan pembinaan mengenai implementasi Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan keluarga. Melalui kegiatan tersebut, para perempuan Hindu diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai pendidik pertama di lingkungan keluarga sekaligus menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai dharma di tengah kehidupan bermasyarakat.

Kontributor : Lilik Dwi Fajar Riyanto


Berita Daerah LAINNYA