Tulang Bawang (Bimas Hindu) - Hari Raya Purnama menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat sradha (keyakinan) dan bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan persembahyangan bersama yang dirangkaikan dengan Dharma Wacana oleh Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang, Ni Nyoman Novikasari, bertempat di Pura Puseh, Desa Kagungan Rahayu, Kecamatan Menggala, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) umat Hindu tersebut berlangsung mulai pukul 17.00 WIB hingga 18.30 WIB. Suasana persembahyangan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan sebagai wujud implementasi nilai-nilai bhakti dalam kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Pemangku menghaturkan banten sebagai persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya, seluruh umat melantunkan kidung suci secara bersama-sama yang kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan, kedamaian, serta kerahayuan bagi seluruh umat.
Usai persembahyangan, Ni Nyoman Novikasari menyampaikan Dharma Wacana bertema "Keutamaan Terlahir Menjadi Manusia sebagai Kesempatan Menegakkan Dharma." Dalam penyampaiannya, ia mengajak umat untuk senantiasa mensyukuri kelahiran sebagai manusia karena merupakan kesempatan yang sangat langka dan mulia untuk melakukan kebajikan serta meningkatkan kualitas spiritual.
Mengacu pada Sarasamuscaya Sloka 2, beliau menjelaskan bahwa hanya manusia yang memiliki kemampuan membedakan serta memilih antara perbuatan baik (subha karma) dan perbuatan buruk (asubha karma). Oleh sebab itu, kehidupan sebagai manusia hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak kebajikan sebagai bekal mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
"Kelahiran sebagai manusia merupakan kesempatan yang sangat berharga. Kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan untuk menegakkan dharma melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik. Setiap karma yang kita lakukan akan memberikan akibat kepada diri kita sendiri sesuai dengan hukum Karma Phala," ujar Ni Nyoman Novikasari.
Untuk memperkuat pemahaman umat, Dharma Wacana juga mengangkat kisah Ratnakara, seorang perampok yang kemudian bertobat dan bertransformasi menjadi Resi Walmiki, penyusun Itihasa Ramayana. Kisah tersebut menjadi teladan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik apabila memiliki kesadaran, kemauan memperbaiki diri, dan keteguhan menjalankan ajaran dharma.
Di akhir pembinaan, penyuluh menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab penuh atas seluruh perbuatannya. Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan ataupun memikul akibat dari karma yang dilakukan orang lain.
"Ketika kita dilahirkan sebagai manusia, kita diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup. Namun, setiap pilihan dan setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan oleh diri kita sendiri. Karena itu, marilah kita senantiasa mengisi kehidupan dengan kebajikan agar memperoleh kebahagiaan di dunia maupun mencapai tujuan hidup yang tertinggi menurut ajaran Hindu," tutup Ni Nyoman Novikasari.
Melalui pembinaan keagamaan yang dilaksanakan secara berkesinambungan, diharapkan umat Hindu semakin memahami nilai-nilai ajaran suci, memperkokoh sradha dan bhakti, serta mampu mengimplementasikan ajaran dharma dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama serta meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan umat Hindu di Kabupaten Tulang Bawang.
Kontributor/Penulis : Ni Nyoman Novikasari